Tampilkan postingan dengan label Karangan Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karangan Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 April 2013

Pengakuan

Begini nasib otak pas-pas-an. Sebenarnya tidak juga, hanya salah jalan dan cenderung memaksakan. Awalnya memang ada sedikit niat untuk menjalani, tapi lama-lama kok jadi rodi. Kepala tiap hari migrain, dimana-mana  ada rambut rontok, mata rasanya ingin keluar, bertambah hari badan semakin mengurus saja. Parah.
Kalau saja dulu Puput lebih mengikuti kata hati, pasti semua tidak akan seperti ini. Kalau saja dia tidak menempatkan Sarah sebagai rival abadinya, tentu saja ia tak perlu repot-repot masuk kelas IPA hanya agar tidak dikira kalah saing. Ah tapi apalah gunanya membicarakan yang sudah-sudah. Tidak menyelesaikan masalah, hanya akan membubuhkan tanda tanya-tanda tanya di kepala yang tidak pernah ketemu jawabannya.
UAN,

Sabtu, 29 Desember 2012

Aliran Baru (Catatan Harian Mantan Aktivis Facebook)



Waktu siang-siang bolong aku buka facebook pakai hape jadulku, nama abangku menyembul di timeline. Ada note yang ia tag dengan judul “lomba menulis bertemakan ideologi si muka buku (Facebookisme)”. Wohoo.. aku emang lagi kangen nulis. Dan kebetulan banget ada ajakan buat ikut event ini.
Facebook adalah aliran baru. Face-book-isme. Ngomong-ngomong soal Facebookisme, aku lihat ada tiga kata sehingga membentuk klausa tersebut. Aku nggak tahu kamusku valid apa nggak. Tapi ternyata kata ‘face’ artinya nggak cuma muka.


Face (feis) 1 muka; 2 pihak depan; 3 kelakuan kurang ajar; in ~ of, berhadapan dengan; in the ~ of, 1 sekalipun; 2 dengan pengharapan; on the ~ of it; 1 segera; 2 selayang pandang; vb mellihat mukanya; 2 berhadapan; 3 menemui.


Setelah face ada kata book. Di SD dulu bu guru atau pak guru sering mendikte kata itu. Jadi, jelas-lah kalau artinya buku. Lagian di kamusku artinya juga cuma itu. Hehee.

Jumat, 20 April 2012

Kartini itu Konsep
 Imamah Fikriyati Azizah

“Sabtu, 21 April 2012, semua siswa dan guru wajib mengenakan pakaian adat.” Suara yang berasal dari loudspeaker itu menggema di ruangan kelas XI IPA 7.
Bulan April adalah bulan yang ditunggu para kaum hawa. Bulannya pahlawan wanita. Siapa lagi kalau bukan Ibu Kartini. Tapi, tidak bagi satu anak ini, Indah namanya. Siang itu sepulang sekolah, di teras kelas Indah diam menatap kosong ke depan.
Okta    : (Menepuk bahu Indah dari samping) “Ndah.. Ati-ati kesambet.”
Indah   : (Terlonjak kaget) “Okta.. Ngagetin aja.”
Okta    : “Ngelamunin apa, Ndah?”
Indah   : (Berdecak) “Gila ya, kenapa juga besok harus pakai kebaya.”
Okta    : “Lhoh.. Kok kamu gitu, Ndah. Ya bagus dong. Itu artinya kita memperingati Ibu Kartini.”
Indah   : “Lebay tahu.” (memanyunkan bibir)
            Indah melipat mukanya. Dia sungguh tidak sependapat dengan peringatan Kartini yang diadakan sekolahnya setiap tahun. Di tengah perbincangan Indah dan Okta, tiba-tiba Agus datang dengan muka masam.
Okta    : “Indah.. Indah” (geleng-geleng) Menyadari kedatangan Agus, Okta menoleh. “Gus, mukamu kamu buang kemana?”
Agus    : “Aishh.. Besok nggak usah berangkat ajalah. Males banget. Ngapain juga harus pakai baju adat. Udah anak kos. Harus nyari baju begituan. Ahh males.”
Indah   : “Setuju, Gus. Kalau Kartini diartikan dengan pakaian adat kayak gini, Kartini itu berarti cuma sebatas simbolik saja kan ya.”

Rabu, 15 Desember 2010

Tuhan Punya Banyak Cara untuk Mempertemukan Kita pada Jodoh Kita

Puncak Keabadian
by Ima (Imamah Fikriyati Azizah)

Cerita ini saya dedikasikan untuk tokoh idola saya “Soe Hok Gie”

“Pokoknya Desember kita harus hiking, aku dan temanku ada misi, Mas Ardhan.”
“Misi apa? Tapi cuacanya.. shh, baiklah!”

Melihat album itu, hanya akan membesitkan perasaan berdosa. Terlebih untuk membuka dan melihat isinya, semua hanya akan mengingatkanku pada hal-hal indah yang berubah mengerikan.
Memoriku meninju-ninju begitu saja, seolah ingin agar aku benar-benar menatanya. Tentang perasaan itu. Ah bahkan sejak kecil, sejak aku masih suka bermain kasti dan dia yang suka menontonku bertingkah bersama teman-teman bergulat dengan bola tenis atau bola kasti kami, perasaan itu muncul dan terngiyang-ngiyang hingga sekarang.
“Kamu nggak bakal muncak ke Semeru kalau sakit-sakitan kayak gitu.” Ejek Findri ketika aku sakit gara-gara terlalu capek bermain kasti.
“Tenang aja, Dik. Nanti kalau udah gedhe muncak ke Semeru bareng Aku.” Balas Mas Ilham membuat aku merasa menjadi pemenang.

Jumat, 03 September 2010

teman satu hari = ichinichi tomodachi

Ichinichi Tomodachi
by Ima (Imamah Fikriyati Azizah)

Telah tercium olehku semerbak bebungaan menghiasi musim semi. Segar!! Hawa tenang dan berwarna mengisi setiap hati warga Jepang di daerah Syizuoka ini. Pulau Honshu tepatnya, Pulau terbesar di Jepang dengan jutaan keindahan.

“Jangan melamun!!“ Seru seseorang membuyarkan lamunanku.
“Aku hanya ingin menghirup udara musim semi di teien ini, sebelum akhirnya aku pergi!!“ Balasku membuat lawan bicaraku mengendus pelan.
“Mau dango ? Kebetulan ibu membuatkan.“ Katanya menawari sesuatu.
“Habiskan dangomu, dan izinkan aku sendiri untuk beberapa waktu ini!“ Kataku bernada mengusir. “E… Tsuki! Sisakan dangomu di meja itu, tiba-tiba perutku lapar,, dan.. arigatoo!“ Lanjutku sementara ia tersenyum simpul.

pelangi di sudut langit


PELANGI
by Ima (Imamah Fikriyati Azizah)

            Mentari tak kunjung ku temui, hanya hujan yang temani hari-hariku di musim penghujan ini. Aku masih termenung di jendela kamar  tidurku. Berharap secercah sinar sang raja siang muncul dan tibalah sang pelangi indah di kawasan awan. Lantas sebuah memori berkunjung mengingatkankku pada sebuah nyanyian yang pernah di ajarkan guruku 9 tahun yang lalu.

Pelangi-pelangi alangkah indahmu
Merah kuning hijau di langit yang biru
Pelukismu agung
Siapa gerangan
Pelangi-pelangi ciptaan Tuhan


            Sejak lagu itu terhafalkan olehku, hatiku berbisik pelan jikalau suatu hari nanti entah kapan aku akan dapat melihat pelangi yang kata buguru pelangi itu indah dan punya 7 warna  yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu atau yang sering kita katakan MEJIKUHIBINIU.