Selasa, 18 Desember 2012

Raport Penentu



*ditulis Sabtu, 15 Desember 2012

Sekarang tengah berada di detik-detik menunggu bapak pulang bawa raport. Waktu aku tanya seberapa besar deg-deg-annya ini hati, dia cuma diem, malahan senyum. Aku pikir dia sedang menutupi rasa gemetarnya sampai nggak berani ngomong. Bohong kalau aku cuma biasa aja. Fine, polahku masih biasa aja. Hidungku masih satu, cuma muncul kacang polong yang ngganggu pemandangan–jerawat. Mataku juga masih sama cara mandangnya, masih berkornea coklat. Waktu aku pegang dadaku, ada denyut yang biasa aja. Tapi kembali lagi, hati sedang sembunyikan gemetarnya.

Guys, sebulan ini bener-bener jadi anak rumahan. Dan itu penyiksaan. Aku nggak bisa kalau dalam tujuh hari, yang enam hari buat sekolah tapi yang sehari cuma nggalau di rumah. Sial ! Sebulan ini bener-bener jadi anak rumahan. Dan betapa beratnya ini kepala sampek buat jalan aja nggak bisa lurus.
Hanifah kayaknya harus bikin proposal resmi setiap mau izin pergi ke orang tuanya. Dia lebih rumahan. Mbak Ida, main sama temennya yang lagi ada masalah, buat temen curhat katanya. Mbak Ika, sepupuku, lagi KKN. Temen-temenku sama rumahannya kayak aku. Apa nasib kelas tiga kayak gini yaa ? :O
Puncaknya sebelum semesteran kemarin. Frustrated ! semua acak-acakkan, aku hampir dikalahin sama yang namanya amibisi. Well, aku ngaku kalau aku tipe orang yang ambisius. Aku bikin target ini-itu di masa depanku. Memutuskan untuk berhenti menggenggam masa lalu. Sementara benar kata Putu Wijaya, kalau kita berhenti melotot ke depan lalu menoleh ke belakang, ternyata masa depan lebih jelas. Aku benar-benar nggak menyadari itu. ters aku pantengin yang namanya masa depan. Nggak boleh ada yang ganggu, titik. Dan itu terjadi enam bulan ini.
Raport ini penentuan buat dapet undangan. Aku nggak berharap banyak, aku hanya berharap ada keburuntungan –mukjizat– lolos undangan di sela kekuranganku sebagai siswi yang rata-rata nilainya jongkok di kelas. Selain itu aku masih berharap ada sisa keberuntungan di semester enam raportku bisa buat maju ke monbusho. Amiin. Syukur-syukur lolos dan jadi mahasiswi di Jepang. Amiin amiin. Mimpi-mimpiku kesampaian, bisa ini-itu. Amiin amiin amiin.
Tapi ambisius nggak selamanya buruk kok. Tinggal gimana kita nempatin aja. Aku rasa aku gagal “berambisi dengan baik” selama enam bulan ini yaa cuma minggu-minggu ini aja. Sebelum-sebelumnya masih ada kontrol selama pikiranku bisa istirahat. Alias, masih bisa main dan bersosial sama orang lain.
Aku kemarin bisa ngerasain yang namanya “kacau” lebih karena aku lagi (men)jauh dari Tuhan, dan karena faktor ketakutan. Ketakutan kalau aku gini gimana yaa, kalau aku gitu gimana yaa. Ashhh!
            Beruntung, Allah ngasih keberuntungan. Ibuku berhasil menjinakkan. Bapak juga, ngasih jimat, eh salah, maksudnya ngajarin do’a minta biar yang sulit jadi mudah.
Allahummaj’alhu sahla illa ma ja’altahu sahla wa anta taj’alulhazana idza syi’ta sahla. Amiin
            Aku pikir setiap galau obatnya dateng dari diri sendiri. Karena kebahagiaan itu begitu dekaaaaaat. Aku barangkali hanya perlu -->
  • Diam sejenak merasakan energi alam 
  • Menulis 
  •  Tersenyum
  •  Shadaqah
  •  Menanam pohon 
  • Tertawa sama anak-anak
  •  Makan coklat
  •  Wudlu terus shalat
  •  Curhat sama Yang Tersetia Mendengarkan curhat
Yah.. itu hal-hal yang pernah aku coba, dan buktinya, move on !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar