Waktu
siang-siang bolong aku buka facebook pakai hape jadulku, nama abangku menyembul
di timeline. Ada note yang ia tag dengan
judul “lomba menulis bertemakan
ideologi si muka buku (Facebookisme)”. Wohoo..
aku emang lagi kangen nulis. Dan kebetulan banget ada ajakan buat ikut event ini.
Facebook
adalah aliran baru. Face-book-isme.
Ngomong-ngomong soal Facebookisme, aku lihat ada tiga kata sehingga membentuk
klausa tersebut. Aku nggak tahu kamusku valid
apa nggak. Tapi ternyata kata ‘face’ artinya
nggak cuma muka.
Face (feis) 1 muka; 2 pihak depan; 3 kelakuan kurang ajar; in ~ of, berhadapan dengan; in the ~ of, 1 sekalipun; 2 dengan pengharapan; on the ~ of it; 1 segera; 2 selayang pandang; vb mellihat mukanya; 2 berhadapan; 3 menemui.
Setelah
face ada kata book. Di SD dulu bu guru atau pak guru sering mendikte kata itu.
Jadi, jelas-lah kalau artinya buku. Lagian di kamusku artinya juga cuma itu.
Hehee.
Nah,
kalau –isme merupakan saduran dari Bahasa Inggris, –ism. Aku nggak lihat ia ada di dalam kamus. Tapi, di alfalink ia memiliki arti ‘aliran’. Dan ketika di
pelajaran PKn maupun Bahasa Indonesia, guru sering bilang kalau kata –isme juga
bisa berarti ideologi atau paham. Idea dan logos, bahasa Yunani. Misalnya,
komunisme, ideologi komunis, atau liberalisme, paham kebebasan, dsb. Jadi,
facebookisme bisa diartikan ideologi facebook, paham facebook; aliran facebook.
Facebook
adalah aliran baru. Sebenarnya istilah facebook udah janggal ya di benak kita.
Apa coba muka buku? Pihak depan buku? Kelakuan kurang ajar buku? Melihat
mukanya buku? Berhadapan buku? Menemui buku? Ah nggak ada yang ngeh di semua artinya. Ngambang.
Istilah
facebook aja udah cukup aneh, apalagi ditambah –isme. Aliran? Yang bener aja.
Eh tapi tunggu. Kalau kita pelan-pelan memahami kata aliran, ada benernya juga sih. Sekarang coba lihat realitanya.
Nggak usah jauh-jauh, dari aku aja deh.
Jujur, aku pernah kecanduan sama yang namanya facebook. Sempat menobatkan diri
sendiri sebagai aktivis facebook. Aku pertama kali bikin facebook empat tahun
yang lalu, semester tiga SMP, kelas ‘lapan. Gara-gara pada ngobrolin update-an
status, ng’wall, profil picture, banyak-lah. Padahal sebelumnya pada girang waktu ngomong soal friendster. Aku cuma
tiba-tiba merasa kehilangan mereka yang tiap hari bicara soal posting; background layer friendster. Tiba-tiba
semuanya berubah dan kata friendster tidak lagi terdengar. Karena penasaran,
aku minta bantuan sahabatku untuk membuat akun facebook. Yak, pas udah punya
aku merasa bakalan bisa cepet nyusul mereka yang sibuk bahas tentang facebook.
Friendster resmi aku tinggalkan. Move on ke
facebook.
“Di
facebook, semakin kamu pakai tulisan-tulisan disingkat, digedhe-kecilin, kamu
bakalan makin keren”
“Maksudmu
tulisan lebay?”
Entah
siapa pernah bilang begitu. Sebagai pemula, aku mematuhi kata-katanya saja.
Setiap mengetik aku buat ‘secantik’ mungkin. Penuh perasaan. Penuh daya peras
otak. Ya, aku memeras otak untuk menghasilkan kalimat-kalimat yang sulit
terbaca. Semakin sulit terbaca akan semakin terlihat keren, begitu pikirku
waktu itu. Hasilnya, ini dia.
Ngakak
kan? Aku aja sekarang sampai nggak bisa baca. Ya Tuhan..!
Aku
mempertahankan ke-alay-anku sampai awal-awal kelas sepuluh, SMA kelas satu. Ada
seorang sahabat yang menyadarkanku. Lebih tepatnya mengangkat dan membuang
kutukan bahasa alay.
Aku
butuh kira-kira satu bulan untuk menyesuaikan diri dengan bahasa ‘normal’nya.
Dan alhasil, I did it. Kapok bener
kalau pakai bahasa itu lagi. Mungkin butuh bertapa tujuh hari tujuh malem buat
bisa baca tulisan itu lagi.
Menurut
pandangan subjektivku, itu bahasa bener-bener merusak perjuangan para pemuda 84
tahun lalu yang bersumpah “Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa
persatuan, Bahasa Indonesia”. Aku ngarang aja sih, pas momen sumpah pemuda, ada
orang alay update status kayak gini, “kAmmie puedtHra n’ puedtHrie InDoNesyia,
mEnjunjUnk baHaSha peRrsAtwantd, BahaSha InDoNesyia.” Ampuuuun. Ampuun kalau sampai ada yang kayak
gitu.
Facebook
adalah aliran baru. Kelas sepuluh aku menjadi aktivis facebook. Rasanya
facebook udah jadi nyawaku, maksudnya nggak bisa hidup tanpa facebook (lebay
banget). Bangun tidur buka faceebok. Mau ke sekolah buka facebook. Nunggu bel
buka facebook. Bahkan kadang pas pelajaran yang boring banget aku sempetin buka facebook. Pulang sekolah buka
facebook. Sambil makan buka facebook. Mau bobo buka facebook. Ironisnya lagi,
waktu salat kepikiran sama yang namanya merangkai status. Ampuuun ! Padahal
kalau aku buka juga cuma baca status-status alay, kalau beruntung ya nemuin
motivasi dari Mario Teguh, atau sesekali update kata-kata galau dan ngomongin
tentang kejadian. Itu-itu aja. Tapi, nggak tahu kenapa, nggak ada bosannya buat
buka facebook dalam kesempatan apapun. Tapi itu dulu, sekarang udah tobat.
Pada
dasarnya aku emang suka nulis. Tapi belum expert.
Oh satu lagi, aku kelihatannya juga galau-an, tapi nggak ikut jadi agen
galauers. Dan sepertinya facebook menjadi wadah buat nulis, buat galau juga
sesekali. Hehee..
Facebook
adalah aliran baru. Orang akan terlihat sangat ketinggalan apabila tidak
memiliki facebook, atau bahkan tidak mengenalnya. Menjadi bahan ejekan ketika
di kelas, di perkumpulan, di mana pun itu. Facebook menjadi gaya hidup baru.
Ibarat fashion yang apabila orang
tidak mengenakannya akan sangat memalukan, sama dengan tidak berpakaian.
Ngomong-ngomong
tentang status update. Ada banyak orang yang menulis hal-hal bermanfaat, tapi
nggak kalah banyak yang kurang kerjaan dan update semau mereka. Selain mereka
yang hobi alay –gemar memusingkan orang yang membaca tulisannya– aku sering
menemukan update status orang yang tengah berdoa. Benar juga sih kalau Tuhan ada dimana-mana,
termasuk di facebook. Tapi, apa nggak lebih mujabah
kalau doanya hanya ia dan Tuhan saja yang tahu. Ah, tapi itu terserah mereka-lah. Yang membosankan itu kalau baca status
orang-orang yang pesimis, merengek, mengeluh, mengutuk. Kata-kata itu bisa
menular! Padahal, bukankah kita diminta untuk menuliskan hal-hal yang
bermanfaat? Kalau isinya cuma luapan emosi yang nggak ada manfaatnya, ah sama
aja buang-buang waktu. Maksudku, kenapa tidak menulis sesuatu yang bisa
menumbuhkan semangat orang lain, minimal menjadi pengingat buat diri kita-lah.
Atau share info tentang berita
faktual, info beasiswa, masih banyak hal bermanfaat yang bisa kita bagi.
Warnet
tidak kenal yang namanya sepi. Hampir semua bilik selalu terisi. Pulang satu
masuk seribu. Begitu seterusnya, tidak pernah sepi. Dan kedudukan facebook di
setiap personal computer, udah pasti url yang diketik pertama di web address adalah http://www.facebok.com/.
Sebagai
konsumen warnet, orang kok bisa betah
berjam-jam stay tune di depan
komputer ya. Aku sering denger dari temen. Kalau ke warnet, ia keluar rumah
saat langit masih putih, pulang-pulang langit sudah hitam. Dan jawaban mereka
selalu sama ketika aku tanya ngapain aja, “ya.. buka facebook, chatting, game
online, banyak-lah.” Lalu, mereka salatnya dimana dan gimana ya? Mereka yang ke
gereja, apa nggak misa atau ibadah. Lantas, orang tua mereka apa tidak
kehilangan anak mereka yang telah beralih menjadi anak asuh teknologi?
Bersosial pun sekarang tidak perlu lagi saling bersua bertatap muka, karena
facebook jawabannya.
Ah
facebook benar-benar telah menjadi aliran baru, gaya hidup baru. Sekedar saran
dari mantan aktivis facebook aja sih.
Dalam 24 jam harus benar-benar terbagi waktu kita untuk ini dan itu. 24 jam dibagi
tiga kan delapan jam? Nah, delapan jam pertama buat ibadah, delapan jam ke-2
buat belajar, delapan jam terakhir buat istirahat.
Aku
pernah baca di sebuah note facebook,
ada orang nulis kalau hidup ini buat ibadah. Apapun yang kita lakukan adalah
ibadah. Jadi semua kembali ke niatnya. Termasuk stay tune di facebook, harus diniatkan untuk ibadah.
Agar
facebook tidak menjadi candu, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah
meningkatkan iman dan takwa, termasuk selalu meluruskan niat.
Yang
kedua adalah, manage waktu. Maksimal
sehari facebook-an dua jam ajalah. Itu pun jangan sampai yang namanya update
status galau. Kalau udah mulai ada keinginan update status galau, langsung log out aja. Bahayanya galau itu kayak
virus, kalau udah hinggap ke satu inang, nggak bakal puas, terus cari inang
yang terdekat, nular. Jangan pernah pegang facebook kalau lagi bad mood atau marah. Nanti bisa mengutuk
nggak jelas. Nggak usah merasa keren kalau update kata-kata puitis tapi jual
kasihan –minta dikasihani–. Nggak usah bangga bisa curhat sama Mr.Facebook.
Yang
ketiga adalah menjadikan facebook sebagai sarana untuk bisa mengeksplorasi
bakat. Misal suka menulis, tulis hal-hal bermanfaat, bisa cerpen, pengalaman,
artikel, dll. Yang bakat di kehumasan, cocok banget tuh kalau facebook jadi
tempat buat share info atau bisa juga
untuk kordinasi. Yang suka punya banyak teman baik dalam maupun luar negeri,
facebook banget solusinya. Tinggal add, nunggu
konfirmasi. Udah deh, bisa kenalan sambil chatting. Banyak contohnya, tergantung
bakat kita apa, yang penting facebook jangan sampai menjadi ajang untuk
mengganggu orang lain. Masih banyak hal bermanfaat yang bisa kita lakukan kok.
Pada
intinya facebook ibarat dua mata uang. Ada kelebihan, ada juga kekurangannya.
Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya sebagai pengguna yang baik. Jangan
sampai dimanjakan teknologi. Karena yang awalnya dimanjakan, lama-lama bisa
jadi diperbudak, Parahnya lagi bisa-bisa menuhankan yang namanya teknologi.
Facebook
adalah aliran baru. Dan mungkin juga sebuah (agama) baru.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar