Selasa, 18 Desember 2012

K.E.J.U.J.U.R.A.N



Aku senang masih ada sisa kejujuran di negeri ini. Pas aku nulis ini, ada kertas kopian membuatku penasaran. Tertera di halaman muka, Sukses Ujian dengan Ikhlas dan Jujur. Menceritakan sebuah sekolah yang menyelesaikan ujian dengan metode ikhlas dan jujur. Aku berharap itu bukan sekedar tulisan.
Aku pikir negeri ini tidak sedang membutuhkan orang-orang (menge)pintar(i). Terciptanya orang-orang yang jujur harusnya menjadi target utama bagi proses pendidikan. Aku tak berniat untuk mengomentari pendidikan sebenarnya, hanya ingin berteriak kalau ada kejujuran yang kalah di sebuah kelas.

Tapi ironisnya kekalahan itu bermula dari sebuah sistem. Sistem yang memberi kekuatan pada kejahatan untuk membisiki nurani manusia agar mengikuti hawa nafsunya menjadi budak-budak kebodohan.
Bagiku kebodohan bukanlah ketika kau tidak bisa mengerjakan integral, atau mungkin elektrostatiska, mungkin juga menjabarkan proses glikolisis, menguraikan senyawa karbon. Bukan, bukan itu. Kebodohan adalah ketika kau berhenti menghargai dirimu sendiri. Lebih memilih apa yang orang lain punya daripada apa yang telah kau usahakan. Mengeluhkan sesuatu yang tengah kau perjuangkan. Bodoh, aku berani berkata kau bodoh ketika kau tidak lagi bisa menganggap dirimu “ada”.
Adanya sistem KKM ibarat dua mata uang. Sisi pertama membuat kita lebih terpacu untuk giat belajar. Sisi kedua menciptakan kader-kader penjilat yang nantinya pandai menguras harta Negara.
Mereka yang sering berdiskusi ketika mata pelajaran PKn atau bahasa Indonesia tentang kasus terpopuler di negeri ini–korupsi–aku melihat mata-mata yang berbinar-binar, meletup-letup semangat mereka mengutuk para pejabat Negara yang menenggelamkan uang rakyat. Tapi apa, mereka yang kempar-kempor itu kenyataannya kalah hanya dengan tiga huruf yang memiliki kepanjangan “Kriteria Ketuntasan Maksimal”, KKM.
Ya Tuhan, apa kejujuran tenggelam di ketiak kebodohan. Apa sudah menipis kebenaran yang tersebar di muka bumi. Kalau begini terus, 25 tahun lagi mau jadi apa negeri ini ?
Ada banyak penyumbang sejarah, maksudku, mereka yang namanya tercatat sebagai pemrakarsa sejarah. Para pahlawan lahir karena adanya penjahat. Indonesia punya banyak sekali pahlawan, Indonesia punya banyak sekali penjahat.
Sedari Orde lama, Orde baru, sampai Reformasi, ada saja pencuri uang Negara, dan kita tetap kaya. Tapi, apa akan selamanya seperti ini. Pencuri yang bukan orang-orang bodoh. Melainkan mereka yang pandai mengerjakan integral, atau mungkin elektrostatiska, mungkin juga menjabarkan proses glikolisis, menguraikan senyawa karbon. Mereka yang pandai dan juara di kelasnya. Mereka yang tumbuh dari sistem pendidikan yang lebih baik dari sekarang. Aku melihat kesuraman di hari yang entah kapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar