Aku senang masih ada sisa kejujuran di negeri ini. Pas aku nulis ini, ada kertas kopian
membuatku penasaran. Tertera di halaman muka, Sukses Ujian dengan Ikhlas dan Jujur. Menceritakan sebuah sekolah
yang menyelesaikan ujian dengan metode ikhlas dan jujur. Aku berharap itu bukan
sekedar tulisan.
Aku pikir negeri ini tidak sedang membutuhkan
orang-orang (menge)pintar(i). Terciptanya orang-orang yang jujur harusnya
menjadi target utama bagi proses pendidikan. Aku tak berniat untuk mengomentari
pendidikan sebenarnya, hanya ingin berteriak kalau ada kejujuran yang kalah di
sebuah kelas.
Tapi ironisnya kekalahan itu bermula dari sebuah sistem.
Sistem yang memberi kekuatan pada kejahatan untuk membisiki nurani manusia agar
mengikuti hawa nafsunya menjadi budak-budak kebodohan.
Bagiku kebodohan bukanlah ketika kau tidak bisa
mengerjakan integral, atau mungkin elektrostatiska, mungkin juga menjabarkan
proses glikolisis, menguraikan senyawa karbon. Bukan, bukan itu. Kebodohan
adalah ketika kau berhenti menghargai dirimu sendiri. Lebih memilih apa yang
orang lain punya daripada apa yang telah kau usahakan. Mengeluhkan sesuatu yang
tengah kau perjuangkan. Bodoh, aku berani berkata kau bodoh ketika kau tidak
lagi bisa menganggap dirimu “ada”.
Adanya sistem KKM ibarat dua mata uang. Sisi pertama
membuat kita lebih terpacu untuk giat belajar. Sisi kedua menciptakan
kader-kader penjilat yang nantinya pandai menguras harta Negara.
Mereka yang sering berdiskusi ketika mata pelajaran
PKn atau bahasa Indonesia tentang kasus terpopuler di negeri ini–korupsi–aku
melihat mata-mata yang berbinar-binar, meletup-letup semangat mereka mengutuk
para pejabat Negara yang menenggelamkan uang rakyat. Tapi apa, mereka yang kempar-kempor itu kenyataannya kalah
hanya dengan tiga huruf yang memiliki kepanjangan “Kriteria Ketuntasan Maksimal”, KKM.
Ya Tuhan, apa kejujuran tenggelam di ketiak kebodohan.
Apa sudah menipis kebenaran yang tersebar di muka bumi. Kalau begini terus, 25
tahun lagi mau jadi apa negeri ini ?
Ada banyak penyumbang sejarah, maksudku, mereka yang
namanya tercatat sebagai pemrakarsa sejarah. Para pahlawan lahir karena adanya
penjahat. Indonesia punya banyak sekali pahlawan, Indonesia punya banyak sekali
penjahat.
Sedari Orde lama, Orde baru, sampai Reformasi, ada saja
pencuri uang Negara, dan kita tetap kaya. Tapi, apa akan selamanya seperti ini.
Pencuri yang bukan orang-orang bodoh. Melainkan mereka yang pandai mengerjakan
integral, atau mungkin elektrostatiska, mungkin juga menjabarkan proses
glikolisis, menguraikan senyawa karbon. Mereka yang pandai dan juara di
kelasnya. Mereka yang tumbuh dari sistem pendidikan yang lebih baik dari
sekarang. Aku melihat kesuraman di hari yang entah kapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar