Rabu, 15 Desember 2010

Tuhan Punya Banyak Cara untuk Mempertemukan Kita pada Jodoh Kita

Puncak Keabadian
by Ima (Imamah Fikriyati Azizah)

Cerita ini saya dedikasikan untuk tokoh idola saya “Soe Hok Gie”

“Pokoknya Desember kita harus hiking, aku dan temanku ada misi, Mas Ardhan.”
“Misi apa? Tapi cuacanya.. shh, baiklah!”

Melihat album itu, hanya akan membesitkan perasaan berdosa. Terlebih untuk membuka dan melihat isinya, semua hanya akan mengingatkanku pada hal-hal indah yang berubah mengerikan.
Memoriku meninju-ninju begitu saja, seolah ingin agar aku benar-benar menatanya. Tentang perasaan itu. Ah bahkan sejak kecil, sejak aku masih suka bermain kasti dan dia yang suka menontonku bertingkah bersama teman-teman bergulat dengan bola tenis atau bola kasti kami, perasaan itu muncul dan terngiyang-ngiyang hingga sekarang.
“Kamu nggak bakal muncak ke Semeru kalau sakit-sakitan kayak gitu.” Ejek Findri ketika aku sakit gara-gara terlalu capek bermain kasti.
“Tenang aja, Dik. Nanti kalau udah gedhe muncak ke Semeru bareng Aku.” Balas Mas Ilham membuat aku merasa menjadi pemenang.
Kalimat itu seolah menjadi janjinya. Entah mengapa, rasanya aku ingin sekali berpuncak di Gunung itu, bersama dia mendaki Semeru memandangi puncak Mahameru. Mungkin aku terkontaminasi dengan sosok Soe Hok Gie yang sering dibicarakan ayah bersama ibu setiap sore di teras rumah waktu minum kopi.
Aku terpaku memandang langit yang hendak menangis, sedang mendung di atas rumah menutupi bayanganku. Ini tahun ke 5 setelah foto-foto itu diambil, di parjalanan Semeru di keabadiannya.
Jarum jam weker bergerak pelan, pelan saja seperti gerimis itu yang seolah merayuku. Aku tersenyum pada hujan dan kulihat di seberang jalan seseorang telah membalas senyumku.
“Jangan melamun, Dik!” Katanya menghampiriku dengan bajunya yang basah kuyub bersama motor maticnya.
“Bajumu basah, Mas. Segeralah mandi nampaknya dari arah timur hujan sudah lebat.” Jawabku.
“Iya, mendung merambat ke barat, di sana hujan deras sekali, ternyata di sini masih gerimis. Ya.. mungkin sebentar lagi akan deras.” Katanya sambil menunjuk ke arah timur.
Dia masuk setelah sempat ngobrol singkat denganku. Dan benar saja, hujan gerimis telah menjadi deras.
Aku meringkuk kedinginan, Mas Ardhan keluar lagi dengan pakaian yang telah berganti, dia membawakan jaket untukku.
“Pakai, Dik! Atau masuk ke dalam. Aku takut kamu sakit.” Katanya sangat perhatian.
“Terimakasih Mas. Disini saja, temani aku. Hujan ini, kita pernah sama-sama kehujanan waktu itu.” Balasku mengingatkan dan ia duduk di sampingku.
“Di puncak keabadian, itu 5 tahun yang lalu 16 Desember 2005, ketika kamu memaksaku untuk ke sana, padahal cuaca kurang menguntungkan.” Katanya.
“Tepat 5 tahun kalau dihitung dari esok hari saat kejadian mengenaskan itu, ya kan?” Balasku dan ia memandangku lekat-lekat.
“Aku ingat Ardhan yang lemah waktu itu, yang bodoh akan perasaannya sampai membuat kakaknya terbunuh, yang tak berani menyatakan perasaannya hingga akhirnya seseorang menolong Ardhan dan orang itu adalah orang pertama yang Kamu cintai.” Katanya.
“Cukup Mas, itu sudah 5 tahun yang lalu. Ardhan yang sekarang sudah tidak lagi lemah, aku mencintai kelemahanmu. Dan kamu adalah orang terakhir yang Aku cintai. Jangan ungkit hal itu, Aku hanya akan merasa bersalah.”
“Kamu sadar apa yang Kamu katakan itu, Dik?” Tanyanya menegaskan.
“Syaraf motorikku bekerja dengan baik, Mas. Aku lebih dari sadar.” Jawabku dan ia menarik nafas panjang.
“Kalau Mas Ilham masih hidup, apa Kamu bersedia menikah dengannya?” Tanyanya seolah menginterogasiku.
“Dianya sudah tiada.” Jawabku singkat.
“Kalau Mas Ilham masih hidup, apa Kamu bersedia menikah dengannya?” Dia mengulangi pertanyaan bodohnya.
“Apa itu penting?”
“Kalau Mas Ilham masih hidup, apa Kamu akan bersedia menikah dengannya?”
Aku menghela nafas dan tanpa sadar air mataku meleleh, “Kupikir Dia tidak akan berani memintaku menikah dengannya. Rasanya Dia akan mengorbankan perasaannya untuk adiknya yang bernama Ardhan Syafiqi seperti yang Ia lakukan waktu itu.” Akhirnya aku berani menjawab pertanyaannya.
“Kamu masih mencintainya, Dik?”
“Izinkan Aku mencintaimu untuk yang terakhir, Mas.”
Tangannya bergetar dan mengusap air mataku, “Dulu air matamu ini adalah pengorbanan, ketika Mas Ilham menyerahkan seuntai daun cemara gugur pada Kita di keabadian Semeru dan Aku melihatmu menangis, Dik. Aku tahu waktu itu Kamu sangat mencintainya, dan Mas Ilham yang juga mencintaimu mengorbankan perasaannya untukku. Tapi sekarang air matamu ini surga, surga bagi seorang istri yang telah tulus mencintai suaminya. Terimakasih, Dik.”
Aku tak kuasa mendengar kalimatnya, yang aku rasa Mas Ilham telah hidup dalam diri Mas Ardhan, atau mungkin jiwanya mengalami reinkarnasi. Aku terisak dan ia memelukku. Mas Ilham semoga perasaanku padamu yang jujur saja sampai sekarang belum hilang tidak mengharamkan pernikahanku dengan adikmu Ardhan Syafiqi.
Hujan masih saja deras, angin membelah dedaunan yang gugur dari tangkainya, dingin dan aku masih dipeluknya. Aku ingat perjalanan waktu itu, ketika dari rumah aku menggendong tas ranselku sampai pulang lagi dan kehilangan orang yang berharga dalam hidupku.
Aku, Mas Ilham, Mas Ardhan, dan Findri sahabatku. Kami berempat berangkat bersama Emapal Surakarta menuju Semeru, gunung aktif tertinggi di Indonesia 3.676 meter atau 12.060 kaki, 15 Desember 2005.
Aku ingat, Mas Ilham waktu itu memakai baju pemberian Findri dan celana training berwarna merah. “Findri” sudah lima tahun setelah pendakian itu, dia menghilang entah kemana. Yang aku tahu, dia sangat mencintai Mas Ilham, dia memintaku untuk menyampaikan perasaannya pada Mas Ilham dan permintaannya itu membuatku sempat tertekan.
“Mas, bisa bicara sebentar?” Pintaku pada Mas Ilham beberapa tahun yang lalu.
“Dengan senang hati, Dik” Balasnya.
“Ini tentang Findri, Mas.” Kataku memulai.
“Ya,”
“Findri ingin agar kamu merasakan apa yang ia rasakan, dia mencintaimu Mas.” Kataku pelan hendak menangis.
“...”
“Dia sangat mencintaimu.”
“?? Kamu sadar Dik? Kamu membeberkan perasaan sahabatmu!! Terlebih orang yang kamu ajak bicara ini adalah orang yang dicintai sahabatmu. Kalau aku jadi kamu, aku akan merahasiakan hal ini. Aku cukup kecewa denganmu.” Katanya beruntun membuatku bingung. “Maaf, aku tidak perlu membuang banyak waktu untuk orang yang mengkhianati sahabatnya. Permisi” Ujarnya lalu pergi.
“Hlo? Sepertinya kita salah paham, Mas. Mas Ilham!!” Kataku sedikit berteriak namun ia tampaknya marah dan berlalu begitu saja. Mataku yang tadinya berkunang-kunang menjadi kering begitu saja.
Sejak itu, ya.. sejak itu, dan lebih tepatnya berakhir ketika aku lemah dan terbaring di rumah sakit, aku dan dia tidak bicara. Bahkan untuk bicara, bersua saja kami tidak pernah melakukannya.
Aku cukup menyesal akan hal itu, orang yang aku cintai membenciku gara-gara sahabatku. Aku tidak berani mengatakan yang sesungguhnya terjadi pada Findri. Sedangkan Findri terus menanyakan hasil perbincanganku atau lebih tepatnya negosiasi antara aku dengan Mas Ilham tentang perasaan Findri.
Waktu itu.. hari terus berganti, bukan hanya minggu berganti minggu, tapi konflik antara aku dan mas Ilham memakan waktu berbulan-bulan, bahkan tanpa kami sadari pergantian waktu cepat sekali, sedang Findri masih belum menyadari. Ku pikir dia memang egois untuk hal yang tidak memberatkannya. Rugi apa dia kalau tahu aku dan mas Ilham terlibat konflik? Dia memang dari dulu seperti itu. Namun, di samping keegoisannya dia tipe orang paling setia yang pernah ada.
Akhirnya tiba pada suatu hari ketika sedang hujan lebat. Waktu itu aku dan Findri sedang di halaman kampus menunggu hujan reda untuk pulang.
“Aku suka hujan, rasanya aku ingin pergi ke halaman itu menghadap kamu di bawah rinai hujan dan mengatakan sesuatu.” Seseorang berkata dari samping kanan Findri.
Findri menoleh lalu tersenyum, “Lakukan!” Balasnya penuh pengharapan.
Orang itu berjalan ke arah timur, tepat di halaman tepat di bawah rinai hujan dan lebih tepat lagi ia menghadapkan wajahnya pada Findri. Aku tersentak melihat orang itu, orang yang pertama dikenal oleh hatiku. Aku sempat berpikir dua kali untuk meninggalkan tempat itu, namun aku berpikir tiga kali untuk tetap berdiri dan melihat apa yang akan dilakukan Mas Ilham di tengah sana dan bagaimana reaksi Findri.
“Dik, hujan ini Aku!! Hujan ini ingin merasakan apa yang kamu rasakan sekarang!! Dik, kamu tahu maksudku?” Katanya dengan nada berteriak.
Findri tersipu, nampak sekali di wajahnya warna merah. Dia tersenyum hangat lalu mengangguk. Aku bingung, harus marah, perlukah sedih atau senang? Tanpa kusadari air mataku meleleh, Findri menoleh ke arahku dan mendapatiku telah menangis. Dia seolah kebingungan meski tak sebingung diriku.
“Iren? Kamu?” Katanya kebingungan.
“Ah, aku hanya terharu melihat Mas Ilham memelankolis keadaan, lihat Fin dia berjalan ke arahmu. Fin, ada baiknya aku pergi, maaf.” Kataku terpaksa berbohong karena merasa tak ada alasan lain selain itu.
Aku segera pergi, masih tampak dari kejauhan Findri dan Mas Ilham menikmati hujan. Aku sembunyi di tangga dekat gudang, tempat terpencil dari sisi kampus. Waktu itu aku benar-benar marah pada diriku, kenapa aku harus melakukan sesuatu yang membuat Mas Ilham marah? Ah kalaupun aku tidak membuatnya marah, mungkin dia juga tidak akan melakukan hal serupa padaku seperti yang ia lakukan pada Findri.
Menyobek kertas, menangis dan menulis. Itu yang aku lakukan, entah berwujud sepucuk surat atau hanya erangan belaka. Aku tidak pandai menamainya, tapi sebut saja surat pangharapan.

Aku ini hujan, yang bilamana tanganmu kamu tengadahkan, aku akan turun dan membasahi tanganmu yang halus itu.
Aku ini hujan, ketika kamu berada di rinainya kamu akan merasa aku sedang mendekapmu.
Aku ini hujan, hujan yang berteman dengan angin. Sejuk dan sedikit gerimis, menyejukkanmu.
Aku ini hujan, yang telah lama mencintaimu, yang berani mengikhlaskanmu karena sahabatku.
Aku ini hujan, yang waktu itu kamu menganggapku telah menghianati sahabatku, padahal yang aku lakukan waktu itu benar-benar Findri yang memintaku.
Aku ini hujan, yang menyatakan perasaan sahabatku kepadamu.
Aku ini hujan yang mencintaimu.
Aku ini hujan, karena hujan adalah kamu!!
Kamu yang entah benar-benar sudah atau belum mengenalku siapa sejatinya diriku? Sejauh mana perasaanku?
Kamu yang menjadi cinta pertamaku.
Kamu yang aku harapkan dapat bersandiwara denganku di lembah Semeru, di Puncak Semeru, di perjalanan Semeru
Ketika aku pernah bercerita tentang keindahan Semeru, “cemaranya , edelweisnya, danaunya”, aku ingin menaklukannya seperti aku ingin menaklukkan dirimu.
Aku adalah hujan, yang hujan itu adalah kamu!!

To Ilham Alamsyah

Aku kacau, air mataku belum juga beku. Isakan tangis membuat dadaku sesak, hah hah.. asmaku!!
Tiba-tiba aku berada di sebuah ruangan serba putih, memang setelah aku merasa dadaku sesak aku tidak sadar lagi kejadian apa yang menimpaku. Segera kubuka mata lebar-lebar dan telah jelas bahwa aku sedang terbaring di rumah sakit.
“Dia hanya shock dengan keadaan, Bapak dan Ibu tenang saja. Asma yang tadi Iren alami tidak separah yang dahulu. Menurut analisa saya, sepertinya ia menangis dan isakan tangisnya membuat dia sesak nafas.” Aku tidak tahu dengan jelas itu suara siapa, mungkin saja itu suara Dokter.
“Menangis? Maksud Dokter asmanya terjadi karena Iren menangis?” Sedang yang ini dapat kupastikan suara Ibu.
“Ya, matanya sembab, Bu.” Jawab Dokter.
“Tapi Iren menangis kenapa ya?” Kata Ibu terdengar kebingungan.
“Ada baiknya Iren jangan ditanya sesuatu yang mungkin saja menyudutkan dia, ya.. barangkali tangisannya tersebut tidak ingin ia tunjukkan pada orang lain, karena kata anak muda yang membawanya kemari, Iren sedang berada di tempat sepi yang jarang dikunjungi orang.” Jelas Dokter.
“Oh ya, siapa nama anak muda itu, Dok?” Tanya Ayah terdengar dari ranjang tidurku.
“Ardhan kalau tidak salah.”
Aku diam berpikir dan tidak lagi menghiraukan suara perbincangan tiga orang yang sedang membahas diriku di luar sana. Ardhan? Hanya ada dua Ardhan yang aku kenal. Mas Ardhan anak Emapal dari Akutansi, adik Mas Ilham sekaligus ketua Emapal yang baru diangkat dan Ardhan anak Elektro. Tapi Ardhan siapa ya?
Ibu dan ayah akhirnya masuk kamar serba putih yang aku tiduri sekarang. Segera memelukku dengan penuh ketakutan. Aku bersyukur mereka tidak menginterogasiku. Mungkin ini berkat wejangan Dokter tadi. Alhamdulillah.
“Assalamu ‘alaikum, permisi.” Sua seseorang dari arah pintu.
“Wa’alaikum salam, Ilham! Masuk Nak! Sendiri kamu?” Balas Ibu sembari mengantar Mas Ilham masuk.
Aku tertegun, terpaku menatapnya. Aku hanya tidak percaya dia mau menjengukku.
“Sama Ardhan dan Findri, Tante.” Jawab Mas Ilham. “Mereka masih di luar.” Lanjutnya.
Sempat girang, namun mendengar nama Findri aku kembali garang. Tiba-tiba Findri dan Mas Ardhan masuk. Menyapa kedua orang tuaku, sontak Findri memelukku.
“Iren, cepat sembuh!” Kata Findri.
“Nak Ardhan terimakasih atas bantuannya ya, Alhamdulillah Iren selamat dan ini berkat Nak Ardhan.” Ucap Ibu pada Mas Ardhan.
“Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk menolong Iren, Tante!” Balas Mas Ardhan.
“Syukurlah. Emm, Iren sudah ada temannya, kan? Ibu sama Ayah keluar ya!” Kata Ibu mengakhiri lalu keluar bersama Ayah.
“Mas Ardhan makasih ya!” Kataku dan Mas Ardhan tersenyum.
Aku melihat senyumnya lain dari orang lain, senyum ini sama seperti senyum Mas Ilham sebelum ia membenciku. Mata yang teduh penuh pengabdian. Aku melihat kehangatan, yah mungkin karena Mas Ardhan dan Mas Ilham saudara sekandung. Atau mungkin hanya karena dia telah menolongku.
“Dhan, kamu ngapain lewat tangga deket gudang?” Tanya Mas Ilham pada Mas Ardhan.
“Nyari tempat sepi.” Jawab Mas Ardhan singkat.
“Untung Mas Ardhan lewat tangga deket gudang, coba kalau enggak, siapa lagi yang mau lewat situ buat nolong Iren?” Sahut Findri.
“Semua sudah dijadwal Tuhan.” Kata Mas Ardhan seolah menyerobot.
“Ya.. asalkan Tuhan bukan dhalang saja!!” Kata Mas Ilham.
“Alhamdulillah!” Sahutku.
“Dik, kalau tidak ada perubahan insya Allah Emapal Surakarta mau hiking ke Semeru tanggal 15 Desember bulan depan, kamu cepat sembuh ya biar bisa ke sana bareng kita bertiga sama yang lain! Lagian beberapa tahun yang lalu aku sempat berjanji bakal menemani kamu muncak di Semeru, kan?” Kata Mas Ilham tiba-tiba, membuatku bersemangat. Bagaimana tidak? Permintaanku pada ketua Emapal Surakarta atau lebih tepatnya pada mas Ardhan dikabulkan. Akhirnya aku bisa menjalankan misiku dan Findri, untuk membuat kejutan pada hari ulang tahunnya meskipun aku dan dia kemarin hari sedang sensitif. Kami merencanakan kejutan itu ketika aku sedang berdiam diri tanpa sua dengan mas Ilham, dan semoga besok tidak lagi. Dan Oh Tuhan, dia benar-benar menganggap perkataannya beberapa tahun silam sebagai janjinya.
Aku tersenyum dan mengangguk, masih merasa lemas namun ada greget semangat setelah mendengar ucapan Mas Ilham tadi. Dia sudah bicara padaku. Namun, aku hanya sedikit bingung dengan kelakuannya. Bukankah sebelum aku tidak sadarkan diri, dia sama sekali tidak menyapaku. Tapi kelakuannya berubah begitu saja. Aku hanya ragu, bagaimana kalau yang ia lakukan semata karena kasihan dengan diriku yang terkulai lemah di rumah serba putih ini? Bagaimana kalau sapaannya karena dia telah menjadi pacar Findri. Ah, kenapa jadi berprasangka buruk seperti ini? Semoga ia benar-benar telah memaafkan aku.
“Benar begitu, Mas Ardhan?” Tanyaku menakyinkan dan mas Ardhan mengangguk penuh keyakinan.
“Tapi kamu yakin bisa ikut? Apa orang tuamu membolehkan?” Tanya Findri mengganggu interaksiku dengan mas Ilham.
“Aku pasti bisa. Kapan lagi aku punya kesempatan sehebat ini” Jawabku begitu yakin.
“Baiklah.” Lanjutnya.
Suasana mencair, kami berbincang membahas pendakian dan seputar kuliah meskipun mas Ilham dan mas Ardhan adalah kakak tingkatku. Aku merasa lebih sehat setelah mas Ilham mengajakku bicara.
Setelah kejadian itu, menikmati perjalanan satu bulan menuju ke tanggal 15 Desember 2005 hubunganku dengan mas Ilham mulai membaik. Aku sembuh dan keluar dari rumah sakit. Senang rasanya.
“Tinggal tiga hari lagi kita hiking ke Semeru, kamu yakin bisa ikut? Apa orang tuamu membolehkan?” Tanya Findri tiga hari sebelum tanggal 15 Desember 2005.
“Tenanglah, Fin. Beruntung, orangtuaku berhasil kurayu.” Jawabku. “Lagian kita kan punya misi untuk ngasi kejutan mas Ilham. tabdzir dong kalau persiapan kita gagal.” Lanjutku berbisik di telinga Findri.
“Memberi kejutan untuk mas Ilham kupikir kamu terlalu bersemangat, Ir.” Jawabnya sedikit berbisik yang membuatku merasa dibingungkan oleh kalimatnya, aku terdiam dan sempat melongo.
“Aa? Ya, bagus dong.” Entah jawaban apa yang aku lontarkan, aku kebingungan dan setengah tak sadar.
“Kalau ada niat Mount Everest yang tingginya 8.850 meter bisa kamu taklukkan kok, Dik.” Kata Mas Ilham yang tiba-tiba datang.
Aku tersenyum sebagai tanda mengiyakan ucapannya, tak ubahnya dengan dirinya. Ya Allah jangan lunturkan imanku hanya karena kata-katanya.
Yang kulihat saat itu dari matanya yang menenangkan dia sempat lama melihat aku. Terbesit di pikiranku, dia merasakan perasaaanku. Tapi, ah sudahlah aku belajar ikhlas karena Allah, ini untuk sahabatku.
“Oh ya, Mas Ilham ini buat kamu dan ini buat Iren. Mas Ardhan kemana ya? Tolong berikan padanya ya, Mas!” Findri memecah tatapanku yang tersembunyi. Memberi bingkisan yang entah apa isinya. Mas Ilham segera memasukkan titipan bingkisan itu untuk Mas Ardhan ke dalam tas hitam bergaris biru miliknya. Dan sesegera mungkin aku dan dia membuka bingkisan itu.
Kaos dan celana training, satu stel. Findri memang tahu kebutuhan kami. Sepertinya bingkisan untuk Mas Ardhan juga sama seperti milikku dan Mas Ilham.
Setelah hari itu, rasanya waktu berjalan cepat sekali. Sisa hari sebelum kami menuju Semeru, aku perhatikan mas Ilham lebih sering dekat dengan aku daripada dengan Findri. Ada-ada saja yang ia bicarakan kepadaku dan aku sering hanyut dalam obrolannya. Tapi perhatianku meluas, Findri nampaknya ketakutan akan kedekatanku dengan mas Ilham. Ah kenapa ini? Dan mas Ardhan, dianya lebih sering melihat aku, Findri dan mas Ilham dari kejauhan.
Rasanya aku pernah merasa chemistry dengan mas Ardhan ketika di rumah sakit. Tapi setelah mas Ilham kembali bicara padaku, aku seolah lupa dengan chemistry itu. Membicarakan mas Ardhan membuatku ingat sesuatu. Sobekan kertas atau surat pengharapan yang aku tulis waktu di tangga tidak ada di aku. Oh, aku mencoba mencari di tangga dan sekitarnya, hasilnya nihil. Terlintas di pikiranku untuk menanyakan keberadaan kertas itu pada mas Ardhan, tapi melihat sikapnya akhir-akhir ini yang ganjil, aku menjadi malas untuk sekedar menyapanya.
Hari itu pun tiba, 15 Desember 2005 setelah adzan ‘asar kami berangkat. Semeru we were coming!! Aku telah siap dengan tas ranselku, pepak kata orang Jawa. Findri, mas Ilham, mas Ardhan dan pendaki lainnya tak ubahnya dengan aku. Serempak memanjikan semangat Emapal Surakarta, kami berjanji untuk lebih tanggung jawab, percaya diri, dan berjiwa sosial tinggi. Bahwa “Setiap Pendaki Adalah Saudara” itu semboyan kami.
Dengan bus jurusan terminal Malang kami bersepuluh berangkat, berdesakan dengan variasi bau keringat ,tapi kami tetap tersenyum semangat. Hanya mas Ardhan yang kelihatannya sedang punya masalah. Lalu dengan sedikit terpaksa aku mengajaknya bicara, beruntung kami bersebelahan.
“Beberapa hari ini aku perhatikan kamu sering menyendiri, apa yang menjadikanmu seperti itu, Mas?” Tanyaku memulai.
“Ternyata kamu menyadari? Ada sesuatu hal yang hal ini berat untuk aku sampaikan, aku tidak mempunyai keberanian untuk menyampaikan perihal yang membuatku lebih suka menyendiri ini.” Ujarnya.
“Maksudmu?”
“Biar aku saja yang tahu, mungkin nanti atau esok kamu akan tahu.” Katanya lagi.
“Yah, baiklah. Semoga lekas membaik. Setiap pendaki adalah saudara. Pekikan itu yang menyemangati kita semua, jadi aku dan kamu adalah saudara. Ku harap kamu selalu menerapkan kalimat itu.” Sedikit malas karena dia tidak mengakui alasan kebiasaannya akhir-akhir ini, aku segera berpindah tempat. Niatnya mau menanyakan soal kertas itu, tapi tiba-tiba malas begitu saja.
Selama perjalanan kami isi dengan selorohan kuno dan sesekali melakukan permainan. Dua jam perjalanan akhirnya kami sampai di terminal Malang. Kami melanjutkan perjalanan dengan angkutan menuju desa Tumpang lalu dengan mobil jeep kami menuju Pos Ranu Pani. Disana kami diperiksa terlebih dahulu dan setelah itu prosesi pendakian baru dimulai.
Start.... go!!
Kami menyusuri lereng berbukit yang dipenuhi edelweis. Subhanallah indah nian! Aku hendak memetiknya, namun seseorang menyibakkan tanganku dengan ranting kering dari bunga itu.
“Biar dia abadi di habitatnya. Kita ini pelestari bukan perusak alam. Biarkan dia indah di alamnya.” Orang itu, Mas Ilham menasihatiku dan aku tersenyum mengiyakan.
Kami kembali menyusuri jalanan yang cukup landai. Beberapa jam berlalu kami memutuskan untuk beristirahat dan menjamak shalat di Ranu Kumbolo. Ini danau terindah yang pernah aku lihat. Burung belibis liar menemani istirahat kami. Saat itu pukul 19.00 WIB. Setelah merasa cukup beristirahat kami melanjutkan perjalanan menuju Oro-oro Ombo melewati bukit terjal. Cukup susah payah namun kami tetap semangat. Padang rumput halus yang ditumbuhi pohon pinus itu udaranya sejuk sekali. Setelah cukup puas menikmati Oro-oro Ombo sembari berpose ria di depan kamera meski tanpa cahaya yang mendukung karena hari telah petang, kami melangkah menuju Cemoro Kandang. Aku melongo melihat kemegahan tempat itu. Hutan cemara dengan kesejukannya. Melambai-lambai diterpa angin ringan, seolah merayuku.
Aku terpaku memandangi cemara sekelilingku, lalu seseorang mendekatiku dan berbisik “Terkadang seseorang butuh untuk menjadi cemara ini yang dipandangi gadis cantik, lantas cemara ini mulai merayu gadis cantik itu.” Kendatinya aku mengenal suara itu, aku menoleh dan mendapati Mas Ilham tengah tersenyum padaku.
Aku tertawa, “Haha, apa coba?” Aku merasa dirayu olehnya.
“Terkadang cemara ini butuh dibelai untuk merasa kehangatan tangan manusia.” Katanya lagi. Aku membelai cemara yang ada di depanku dan si cemara menggerakkan daunnya. Menyeringai, kami tertawa kecil.
Kami berjalan lagi, Mas Ilham lebih sering denganku daripada dengan Findri. Dan rasa nyaman yang tak terhingga benar-benar menyelimutiku. Ah!!
Merasa perlu bermalam, kami memutuskan untuk istirahat di pos Kalimati. Aku dan beberapa orang mencari ranting untuk membuat api unggun, sedang sisanya membuat tenda.
Findri melangkah gontai ke arahku. “Nyaman ya dekat sama mas Ilham, benar kan, Ir?” Katanya memulai membuat jantungku berdetak hebat.
“Aku nyaman ketika berada di antara orang-orang yang menyayangiku. Aku nyaman dekat denganmu.” Balasku.
“Enak tak dirayu cemara?” Katanya lagi membuat perasaanku teraduk.
“Aku ingin dirayu malam.” Balasku.
“Kalau saja malam ini hujan, kamu pasti akan lebih merasa dirayu, ya?” Katanya seolah mengejar jawabanku.
“Mungkin apa yang kamu pikirkan adalah apa yang ada di benakku.” Balasku.
“Tepat! Aku hanya merasa akhir-akhir ini kamu lebih dekat dengan mas Ilham.” Lanjutnya.
“Kamu cemburu?” Tanyaku.
“Kalau aku mendekati orang yang kamu suka, apa kamu akan tetap diam?” Jawabnya membuatku cukup gusar.
“Apa kamu menganggap aku mendekati mas Ilham, Fin? Hal itu bahkan tidak terpikir olehku sebelumnya.” Balasku.
“Naluriku yang bicara.”
“Naluriku tidak terima karena sahabatku menganggap aku serendah itu.”
Findri menatapku lekat-lekat, aku sempat menangis mendengar tuduhannya. Lalu dia pergi.
Menyelesaikan tugas mencari ranting dan membangun tenda, kami berkumpul melingkar mengelilingi api unggun untuk menghangatkan tubuh sembari mendengarkan orasi dan anekdot serta permainan konyol dari panitia Emapal Surakarta dan memakan cemilan yang ibu bawakan. Aku yang saat itu didekati mas Ilham merasakan Findri dan mas Ardhan nampak kecut, beberapa kali mereka melirik ke arah kami lalu mendengus. Aku ingin membicarakan obrolanku dengan Findri tadi pada mas Ilham, tapi apa guna pula? Mas Ilham mungkin akan kebingungan, bisa saja dia tidak memahami perasaan wanita.
Menikmati malam dan menyanyikan lagu “malam biru” Sandy Sandoro. Aku hanyut di dalamnya, aku bersyukur pada Tuhan yang memberi kesempatan padaku untuk merasakan hal indah seperti ini. Pertama kali mengalami proses pendakian yang menantang nyawa namun menyenangkan.
Setelah merasa benar-benar lelah, kami akhirnya memutuskan untuk istirahat. Dingin menusuk tulang rusuk kami. Findri enggan tidur di sampingku, dia memilih tidur di tenda sebelah. Mencoba melelap-lelapkan tidur meski sangat sulit akhirnya aku lelap juga, hingga mataku tersorot cahaya senter yang membangunkan kami. Pukul 02.00 WIB.
“Setengah jam kemas-kemas, bawa barang yang penting saja, jalan akan lebih curam lalu segera kita melanjutkan perjalanan. Siapa terlambat akan ditinggal!!” Teriakan mas Ardhan dengan gaya kepemimpinannya sebagai ketua Emapal membangunkan kami.
Bergegas, sedikit serabutan akhirnya pukul 03.30 kami menyelesaikan tugas kami. Membawa barang seperlunya tanpa melupakan tenda darurat super besar yang cukup menampung 10 orang dan meningggalkan tiga tenda mini tetap berdiri (dua tenda untuk perempuan dan sisanya untuk laki-laki) serta menyimpan barang-barang sampah di dalamnya (sebutan untuk barang yang tidak sedang kami perlukan), lalu berangkat. Cuaca dingin masih menusuk. Hawa pegunungan menerpa tubuh kami. Menggigil, gigi kami menggertak-gertak, kami kedinginan.
Cemas akan asmaku, mas Ilham benar-benar memperhatikanku. Oh, Findri... aku tahu hal sepele seperti ini yang membuatmu marah. Tapi apa hubungannya dengan raut muka mas Ardhan yang menyedihkan itu? Ah, aku disibukkan dalam perhatian mas Ilham. Waktu itu dia menjadi pengganti ibu dan ayahku. Dia sangat protektif.
Benar saja kata mas Ardhan, ternyata jalanan curam. Beruntung mas Ilham mau membantuku, tapi Findri. Ah, aku merasa bersalah.
Melewati Arcopodo, namun kami tidak seberuntung Almarhum Norman Edwin yang dapat menemukan Arcopodo atau Arca kembar tersebut ketika sedang melacak jejak kawannya, Soe Hok Gie. Arcopodo adalah wilayah akhir vegetasi lembah Semeru ini, selanjutnya kami hanya akan menemui jalanan pasir berbukit.
Dingin masih menyentuh hingga ubun-ubun kami, sedang langit menjelang pukul 4 menandakan akan turun hujan. Petir itu menjilat dari arah yang tidak terlalu jauh dari posisi kami berdiri. Dan benar saja, tak lama kemudian hujan mengguyur tubuh kami.
Segera membangun tenda darurat. Meski terlanjur basah, tapi ini cukup membantu. Beberapa dari kami terutama kaum wanita banyak yang menangis, mereka ketakutan, bagaimana kalau... bagaimana nanti? Bagaimana jikalau kami...? Ah, itu perasaan mereka.
Aku sibuk membantu menenangkan Niar yang baru pertama kali naik gunung, meskipun aku juga baru pertama kali naik gunung. Tak ubahnya Findri, kami menenangkan Niar. Cup.. cup. Pandanganku seketika mengarah ke Findri. Findri maafkan aku. Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya untuk menjelaskan perasaanku ini. Terlebih ketika mas Ilham lebih dekat denganku dan jarang sekali menghampirimu, aku bahkan tidak tahu jalan pikirannya, aku tidak mengerti bagaimana aku menjelaskan hal ini padamu, aku belum bertanya tentang alasan mas Ilham yang tiba-tiba saja menjauhimu, aku sempat berpikir mungkin dia tidak menyadari konflik batin yang kita alami ini. Tapi hal ini tidak perlu dijelaskan, kawan. Aku tahu kamu pasti telah mengerti, entah bagaimana caranya kamu pasti telah mengetahui tentang kebenaran perasaanku yang terpendam dalam relung hati. Mungkin kamu telah menebak-nebak kelakuan janggal mas Ilham. Aku tahu kamu lebih mengetahui.
Aku terlalu kedinginan. Pandanganku pada Findri kabur seketika, aku merasa tiba-tiba lemah dan semuanya nampak gelap, hanya siluet beberapa orang yang secara serempak menghampiriku, tapi aku tidak tahu dengan jelas siapa saja mereka itu.
Asmaku menidurkanku.
“hh” aku merintih, dadaku berat sekali.
“Iren! Iren!” Seseorang itu menyapaku, lembut dan sepertinya orang itu menangis.
“Dik! Dik! Ayolah! Cepat geledah pakaian dan tasnya, cari pompa oksigennya!!” Lalu suara yang sangat aku kenal mengajakku berbicara sembari meneriaki yang lain agar segera bertindak. Mas Ilham kebingungan.
Barang yang biasa aku pakai sudah tertempel di depan mulut dan hidungku. Mataku membuka perlahan, aku mendengar, ya, aku mendengar suara hujan di sela suara orang-orang itu. Mataku telah melebar dan seketika orang itu memelukku. Bukan mas Ilham, tapi Findri sahabatku.
“Syukurlah! Iren, aku takut.” Findri memelukku dalam isakannya. Findri sangat heboh kalau menangis, raungannya mengalahkan dentuman Semeru.
“Maafkan aku, Fin.” Entah mengapa kata-kata itu tiba-tiba keluar.
“Sudahlah, aku bahkan tak tahu maksud permintamaafanmu. Cepat sembuh, Iren. Maafkan aku soal kejadian di cemara, aku terlalu kalut dengan bayang-bayang kecemburuanku.” Findri menjelaskan . Tapi aku terlalu lemah untuk sekedar mendengarkan.
“Maksudmu apa, Fin?” Mas Ilham menyela pembicaraan kami.
“Bukan.” Findri menjawab singkat dan penuh makna.
“Bagaimana tidak cemburu, kalau pacarnya lebih perhatian dengan orang lain. Kamu itu kelewatan.” Seseorang menyambung balasan Findri. Mas Ardhan telah menjelaskan. Namun bagaimana dia bisa tahu dan menebak penyebab konflik batin antara aku dan Findri?
“Ha?” Tidak mau memperburuk suasana yang sudah kacau, mas Ilham memendam gugatnya lalu diam, nampak kebingungan. Dia terlalu bingung dengan maksud omongan kami. Findri menatap mas Ardhan, seolah bertanya bagaimana ia bisa tahu hal tersebut?
Tubuhku basah, bagaimana tidak, sebelum pinsan aku kehujanan. Beruntung aku lekas sadar, sehingga teman-teman tidak terlalu cemas.
Jujur saja, kami salah memilih waktu, kembali ke awal cerita, niat kami (aku dan Findri) hiking ke Semeru untuk merayakan ulang tahun mas Ilham. Aku-lah dhalang di balik kesalahan ini, aku memaksa mas Ardhan yang baru saja diangkat menjadi ketua mengiyakan pendakian, dan dia mengizinkan. Baiknya sekitar bulan Maret kami akan diprediksikan lancar dalam perjalanan, tapi aku ngeyel, bersikeras meminta bulan Desember. Dan sudah terlanjur, aku dan teman-teman tidak bisa lari dari kenyataan.
Kami hanya membawa bekal seperlunya untuk menapaki wilayah berpasir ini, minuman kami hanya tinggal beberapa botol saja. Takut tidak cukup untuk perjalanan ke depan, baik untuk melanjutkan naik maupun untuk menuruni bukit raksasa ini, mas Ardhan menengadahkan dua botol minuman kosong ke arah langit guna menampung air hujan. Mencoba menyaring air agar benar-benar bersih meskipun kenyataannya banyak tercampuri titik-titik hitam yang terbawa angin.
Harusnya saat ini sudah Shubuh kalau dihitung dari waktu pertama kita melanjutkan perjalanan setelah istirahat di Pos Kalimati. Dengan tubuh menggigil dan basah kuyub, apalagi aku yang baru siuman dan dadaku masih terasa berat, kami yang beragama Islam melaksanakan shalat jama’ah Shubuh. Biar saja mukena yang kami pakai ikut basah, asal kami dapat mengadu pada yang Esa. Aku tayamum, sedang teman-teman muslim lainnya mengambil air wudlu dari derasnya hujan.
Takbir di bawah tenda basah sedang teman-teman nasrani memandangi kami, ikut khidmat. Mereka tidak hanya diam, mereka sedang berdo’a pula. Kami di bawah tenda yang seadanya ini sedang memohon kemurahan Tuhan agar mempermudah perjalanan kami.
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Kami menengadah, berdo’a begitu khusyuknya sedang petir di luar sana tetap saja menjilat-jilat langit. Menggelegar penuh amarah ditemani bunyi gembludhug dari perut Semeru. Tidak ada yang melamun bahkan tidur, meski terbilang kami kurang istirahat. Tapi inilah kami, setiap pendaki adalah saudara. Tidak hanya aku yang merasa disulitkan dengan keadaan, tapi saudara-saudaraku di sini merasa hal yang sama. Tuhan, rengkuh kami untuk bersabar.
Selesai. Kami menunggu hujan reda. Lantas tak lama kemudian, matahari mulai mengintip dari arah timur. Hujan berhenti dan kami mendapati pagi indah yang berembun. Mas Ardhan sebagai Ketua Emapal yang sedari tadi diam berpikir, akhirnya bicara juga.
“Terpaksa kita buat formasi darurat apabila nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dari 10 orang kita bagi tiga kelompok. Kelompok satu berangkat lebih dulu, Ilham, Iren, Findri. Disusul kelompok kedua Adel, Fira, Adam, Catur. Terakhir Saya, Idham dan Niar. Semua tolong tanggung jawab khususnya tanggung jawab bagi diri sendiri. Kita Emapal, sesama pendaki adalah saudara, kembali ke misi awal kita. Berdo’a lalu segera berangkat. Racun belerang akan mengancam nyawa kita kalau kita lambat sedikit saja.”
Tegas, mas Ardhan membuktikan bahwa dirinya memang pantas menjadi ketua, bisa lantang dan sederhana. Tapi gurat wajahnya menggambarkan kalau dia sedang kebingungan. Jelaslah, dia sebagai pemimpin sekaligus pennanggungjawab memikul beban yang berat. Apalagi dia waktu itu harus menanggapi pemaksaanku, mungkin hal itu juga dipikirkan olehnya. Mungkin hal itu memberatkannya, sehingga dia berubah menjadi pendiam. Mungkin saja.
Dengan formasi baru, tanpa bumbu cin-cong dari kami yang kurang setuju akhirnya melangkahkan kaki. Bermodal niat menyebut nama Tuhan kelompok pertama yaitu aku, Findri, dan mas Ilham berangkat.
Jujur saja, kondisiku masih terlalu berat untuk melakoni perjalanan ke atas. Aku masih ingin istirahat, masih ingin meringankan dadaku yang masih terasa beratnya. Tapi kami seolah dikejar waktu, kesiangan sedikit kami akan mendapati racun yang sungguh membawa bencana.
Baik aku, Findri maupun mas Ilham diam seribu bahasa. Tidak membicarakan secuil pun topik, atau berseloroh sekalipun. Beberapa langkah ke depan, kelompok kedua masih kelihatan namun kelompok ketiga jauh di bawah. Ini memang taktik agar kami benar-benar bisa tanggung jawab, selain itu juga menghemat waktu.
Mas Ilham melangkah dengan gontainya, namun wajahnya berubah pucat pasi. Air mata masih membekas di muka Findri, matanya sembab. Apalagi aku yang sedari kemarin menangisi dia, kelopak mataku bahkan lebih besar dari biasanya.
Kami melangkah bersama, menikmati Semeru yang telah kerontang karena lahar panas. Bau gas belerang mulai tercium, pasti kami telah dekat dengan kawahnya, dekat dengan kawah Jonggring Seloko. Menyengat, cahaya mentari mulai menusuk kulit. Merasa terlalu capek, mas Ilham mengajak istirahat sebentar.
Mukanya lebih pucat sekarang, apa dia sakit? Aku dan Findri bertolehan, merasa kebingungan dengan raut wajah mas Ilham. Waktu itu kalender menunjukkan tanggal 16 Desember 2005, mas Ilham akan berulang tahun ketika hari menunjukkan tanggal 17 Desember. Itu artinya umurnya 22 kurang satu hari. Aku dan Findri masih 19 tahun. Dan mas Ardhan 21 tahun.
Aku dan Findri tidak melupakan rencana kami membuat kejutan untuk mas Ilham. Telah kami siapkan, bahkan tersimpan dalam ransel Findri, namun tidak perlu aku ceritakan sekarang ataupun nanti (biarlah itu menjadi rahasia antara aku dan Findri). Meski sempat marahan di perjalanan Semeru semalam, aku dan Findri akhirnya dapat saling memaafkan. Kami memang selalu begitu, sering tidak sepaham lalu marahan namun cepat sekali untuk akur.
“Cukup? Kita naik lagi. Kalian baik-baik saja, kan?” Mas Ilham mulai bicara.
“Bagaimana mungkin Aku dan Iren membiarkan perjalanan ini berlanjut kalau mukamu sepucat itu?” Findri mengerahkan perhatiannya.
“Kita tidak akan pernah sampai kalau hanya berdiam diri di sini.” Mas Ilham menjawab dengan argumennya. “Aku baik-baik saja.”
“Baiklah kalau itu maumu, barangkali kamu tidak mau mendengarkan aku lagi.” Findri memancing persoalan antara kami.
Mas Ilham memandang kosong dengan mukanya yang lebih pucat dari apapun. Findri ketakutan lalu menunduk.
“Bagaimana kalau kita menunggu yang di bawah? Kupikir langkah kita terlalu cepat.” Aku mencoba berpendapat.
“Kita harus segera sampai ke puncaknya.” Mas Ilham membalas.
“Tidak perlu tergesa-gesa.” Aku mencoba mengingatkannya dan dia nampak kebingungan.
Sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya? Cepat sekali dia berubah, tanpa memberitahu, tanpa menjelaskan. Apa yang tengah dipikirkan olehnya? Apa dia sedang sakit?
“Tolong dengarkan Aku, Aku baik-baik saja. Dan alangkah baiknya kalau kita segera menuju ke puncaknya sebelum matahari benar-benar ke tengah dan bau belerang menusuk paru-paru kita. Tolong, ini juga demi kalian. Aku takut kalian kenapa-kenapa gara-gara bau gas ini.” Mas Ilham mencoba meyakinkan kami, dan kami pun melaksanakan permintaannya.
Langit entah kenapa tiba-tiba mendung, nampaknya hujan akan segera mengguyur, padahal sebelum itu matahari menyorot tubuh kami, membagi sinar ultra violetnya yang bervitamin D. Kami tengah menapaki jalanan berpasir. Sedikit-sedikit longsor, kami ekstra hati-hati. Puncak Semeru masih jauh meskipun terlihat dekat apabila dilihat dari posisiku dan kedua temanku berdiri.
Ini pagi tergelap yang pernah aku temui. Angin serabutan mengaburkan pasir gunung, dan bau belerang itu semakin pekat saja. Aku takut asmaku terpengaruh, tapi aku merasa lebih kuat dari biasanya, dadaku mulai meringan setelah istirahat tadi. Kaki kami kaku sekali, angin bertiup begitu kencangnya, seolah hendak membuang kami jauh-jauh. Hujan, pagi setengah siang itu hujan badai. Aku dan kedua temanku berteduh di bawah pohon cemara setengah tumbang yang melapuk dan tak bersisa daunnya. Tidak ada pohon selain pohon lapuk ini. Mas Ilham menggigil, segera bersandar di pohon lapuk itu. Nafasnya tersendat, dia kedinginan.
“Fin, bagaiman ini?” Aku tergugu memandangi mas Ilham.
“Coba beri dia obat bengek mu, oksigen itu mungkin membantu.” Findri lekas menjawab pertanyaanku, dia terisak tak karuan.
“Tapi sudah terkena nafasku. Lagian untung apa, dia kedinginan bukan kurang oksigen.” Aku mencoba menerangkan.
“Bukan, dia bergulat dengan bau belerang.” Balasan Findri menyadarkanku, dan sesegera mungkin aku mencari pompa oksigenku.
“Aduh, gawat. Pompa oksigennya nggak ada.” Kataku kebingungan.
“Pasti tertinggal di tenda darurat. Nafas buatan.” Findri mengingatkan, Memang setelah siuman aku tidak mengontrol barang bawaanku.
“Ha? Tapi dia bukan siapa-siapa kita. Tuhan, nafas buatan terlalu berlebihan!! Mas Ardhan dan yang lain kenapa belum sampai?” Aku merajuk. Seolah marah dengan keadaan, lalu tiba-tiba,
“Iren, tenanglah!” Suara parau mas Ilham mengagetkanku dan juga Findri. Kami lebih mendekat., mencoba mendengarkan kalimatnya seksama “Tak perlu nafas buatan, aku telah dibuatkan nafas yang maha banyak oleh Tuhan.” Mas Ilham bicara begitu polosnya.
Aku dan Findri menangis sejadinya, derai hujan dan bunyi gembludhug seolah kami kalahkan.
Aku menatapnya yang mulai kaku, mantel dan jaket kami tidak cukup membantu penghangatannya. Hujan badai itu terlalu nakal.
Waktu itu kami hanya berharap kesembuhan untuknya, semoga bantuan dari orang di bawah cepat datang. Kami sungguh ketakutan.
Aku memutar pandanganku 360°. Nampak dari arah bawah ada tiga siluet yang ditemani cahaya senter. Aku berlari ke arah mereka, melambaikan tangan dan melonjak-lonjak. Findri memandangiku namun dia tetap di tempat, berusaha agar mas Ilham mendapat kehangatan suhu badannya.
Tiga orang itu, mas Ardhan, Adam dan Adel. Tapi formasi kelompok mereka kenapa bisa berubah?
“Iren!! Di bawah kacau, badai beruntun datang. Hanya tersisa kami bertiga yang cukup kuat fisiknya melawan hujan badai untuk mengajak kalian pulang. Kami telah menghubungi orang Pos agar segera menolong kita, beruntung Idham masih bugar dan mau turun duluan. Niar, Fira dan Catur kusuruh tinggal di bawah. Cuaca benar-benar tidak memungkinkan, baiknya cukup sampai disini.” Mas Ardhan menjelaskan sebelum akhirnya aku angkat bicara.
“Cukup. Lihat kakakmu, Mas. Mas Ilham....... Kami tidak tahu harus berbuat apa?” Aku menangis sejadinya dan bertengger di dada Adel.
Tak perlu mendengarkan omonganku lebih jauh, mas Ardhan berlari ke arah pohon tumbang. Menyadari kakaknya telah lemah, dia segera mengoprak-oprak tubuh mas Ilham.
“Cukup. Cukup. Dia tengah lemah, Mas Ardhan.” Findri menyalahkan mas Ardhan dan memelukku juga Adel.
“Kalian datang juga. Aku merasa sangat sehat.” Mas Ilham memulai kelucuannya, bagaimana mungkin dia merasa prima sedangkan dia terkulai lemah seperti itu.
Dia bergerak, mengambil barang di ranselnya.
“Ardhan, Iren, Findri kemarilah, mendekatlah.” Dia menyebut nama kami bertiga begitu lembutnya. Sesegera mungkin kami berjajar di samping kanan kirinya.
“Ardhan, Iren, ini guguran cemara dari Cemoro Kandang. Aku sengaja memungutnya untuk kalian tanpa sepengetahuan satu malaikat maupun satu setan pun. Anggap saja daun cemara itu adalah aku yang selalu ingin dibelai tangan manusia namun akhirnya gugur juga. Dan ini, edelweis untuk orang yang sangat setia dengan perasaannya, untukmu Findri. Aku tidak berani memetiknya langsung dari pohonnya, seperti aku yang tidak berani untuk sekedar menguasap air matamu. Aku mencari edelweis tersegar yang gugur dari tangkainya untuk aku berikan pada orang yang sangat setia, sesetia edelweis itu yang akan mati apabila tidak disirami di tanah pegunungan, edelweis yang tak akan pernah mekar apabila ditanam di kampus kita. Eh,, hh.. Ardhan, Iren selepas kuliah dan mendapat penghidupan berjanjilah untuk hidup bersama. Dan kamu Findri, tolong jangan benci aku yang lemah ini. Aku merasa sangat sehat sekarang. Iren, aku si hujan telah berhasil kamu taklukan. Ini.................“ Kami menyimak kalimatnya yang patah-patah. Banyak sekali kalimat konotasi, dia memang pandai merangkai kata bahkan ketika sedang lemah sekalipun.
Dia tersenyum ke arahku, tubuhnya yang bersandar pada pohon cemara setengah tumbang sudah tidak bertenaga. Langit itu, mendungnya menutupi siluet matahari. Hujannya seolah menampari pipi kami. Bau belerang yang dikaburkan badai masih terasa, bau yang lebih mirip bau WC yang menjijikkan. Pohon tumbang setengah yang masih berdiri ini melemah selemah tubuh mas Ilham. Mas Ardhan yang sedari tadi memegangi kaki mas Ilham dan sesekali terperanga ketika menyimak kalimat kakaknya telah berteriak begitu hebatnya.
Aku lemas dan asmaku mengajak berdiskusi. Findri tergugu. Sedangkan Adel dan Adam serabutan menolong kami.
Inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun
Kalimat itu yang sedari tadi kupaksa keluar di samping asmaku yang mulai mengajak bertengkar. Adel memelukku erat. Menggeledah tubuhku mencari pompa oksigen, namun hasilnya nihil karena pompa itu tertinggal di tenda darurat.
Adam mendongak membasahi mukanya, berdoa agar hujan cepat reda dan semoga bantuan yang tengah diusahakan orang bawah segera datang. Aku merasa lebih lemas dari biasanya, dari apapun itu. Tidak tahu lagi apa yang terjadi, hanya terngiyang-ngiyang kalimat terakhir mas Ilham yang belum usai. “Ini.............” Ini apa, Mas? Kamu kurang cepat.

§§§§§

Putih. Lagi-lagi putih. Aku pasti sedang terbaring di tempat yang paling aku benci. Rumah Sakit.
“Mas Ilham? Ini...........” Aku meneriaki seisi ruangan. Cepat-cepat beberapa orang dari arah pintu berdesak masuk ke dalam.
“Iren!!” Mataku telah terbuka lebar, ibu menyapaku penuh rasa iba dan ayah tengah tersenyum gemulai. Sedang dokter mencoba mengecek keadaanku.
“Bagus.” Itu katanya sebelum akhirnya keluar mengurusi pasien lain.
Aku melihatnya, ya.. orang itu “Mas Ilham!” Aku menyapanya dengan suaraku yang parau. Lihat dia mendekat, menyerahkan setangkai cemara yang mulai layu. Mataku berkaca-kaca. Aku senang dia selamat.
“Sudah membaik, Dik?” Sapaan itu, suara yang sedikit lebih besar dari biasanya. Bukan, itu bukan suara mas Ilham. Suara mas Ilham lebih ciut, lebih menenangkan dengan gaya lelucon dan terkadang serius. Suara ini, bukan suaranya! Mungkinkah mas Ilham banyak menelan air hujan yang membuat suaranya berubah? Jelaskan.
“Mas Ilham.” Sekali lagi aku menyebut nama itu.
“Ini Ardhan.” Orang itu, ya.. dengan suaranya yang lebih besar dari mas Ilham telah menjelaskan. Pandanganku dikaburkan ilusiku. Aku melihat dirinya yang ada dalam diri mas Ardhan. Aku melihat dirinya.
“Penguburannya berjalan dengan khidmat. Umurnya 22 tahun minus 1 hari. Dia mati muda.” Orang itu, mas Ardhan menceritakan.
“Sekarang tanggal berapa?” Aku mulai bicara dengan sepenuh jiwa, membuktikan bahwa aku telah sadar.
“20. Tanggal 17 tengah malam kita baru dievakuasi dan maaf, penguburan tidak menunggu sampai kamu siuman, tanggal 18 setibanya kita di rumah dia segera dikebumikan. Dan kamu baru siuman hari ini.” Dia menceritakan perihal yang belum kutanyakan. “Tapi setelah prosesi penguburan itu, Findri menghilang.” Aku tertegun mendengar kalimatnya.
“Kemana?” Aku bertanya dan dia menggeleng.
“Tidak ada korban meninggal selain dia, lainnya selamat. Tinggal kamu yang masih terbaring di rumah sakit, cepat sembuh ya.. banyak hal yang perlu aku perlihatkan.” Dia mencoba menyemangatiku.
“Kenapa tidak sekarang?” Aku menawar dan dia tersenyum simpul. “Aku mencoba tidak bersedih, Mas. Bantu aku.”

§§§§§

Lolos dari Rumah Sakit.
“Semua telah jelas di sini. Termasuk kalimat yang terpotong mautnya. Aku menemukan buku merah ini di ranselnya dan di situ tertulis tolong baca ini. Iren, aku akan sangat senang kalau kamu membacanya, barangkali kamu akan sadar dengan sendirinya tentang alasan kenapa aku lebih senang menyendiri sebelum pendakian itu.” Mas Ardhan menyerahkan buku merah lusuh yang sepertinya terkena air.
Aku membukanya perlahan, menilik halaman demi halaman. Air mataku menetes sedimikian teraturnya seperti cerita hujan yang membekas di ulu hati. Buku merah telah membuktikan semua, tentang perasaannya yang terpaksa ia redam karena adiknya, tentang cintanya pada Findri yang tidak setulus apa yang aku bayangkan. Hanya karena dianya terlampau kagum dengan Findri yang sangat setia, seperti kesetiaan edelweis yang tidak pernah mau berpindah tempat selain di dataran pegunungan.
Aku melihat kebenaran dan jawaban suratku dahulu, sesobek kertas tentang curahan hatiku. Surat itu ada di dia. Dia memahami kisah kontra antara kita, tentang perasaan Findri. Dan jawabannya singkat saja.
Aku memanglah hujan yang kamu mau
Awalnya surat itu memang digenggam mas Ardhan dan tanpa sepengetahuan siapapun, mas Ilham mengambil surat itu. Itulah yang membuat mas Ardhan kebingungan dan galau, ketakutan bagaimana kalau aku menanyakan keberadaan surat itu? Dia takut berbohong dan tidak mau melukai perasaanku. Ditambah tanggung jawabnya yang besar untuk mengawal sembilan orang mendaki gunung tertinggi se-Jawa. Meskipun mas Ardhan telah menceritakan hal tersebut pada kakaknya namun mas Ilham tidak mau mengakui tentang keberadaan surat itu. Dia lebih senang melihat adiknya galau ternyata. Atau mungkin dia menjaga perasaan adiknya yang juga telah lama memendam perasaan yang sama terhadap diriku. Karena surat itu pengharapanku pada mas Ilham bukan mas Ardhan.
Tentang alasan mas Ardhan yang mengiyakan perjalanan itu juga gamblang diterangkan. Alasannya sepele, karena dia mencintaiku.
Semua tertulis. Ini mungkin diary mas Ilham. Perihal perasaannya kepadaku, perasaan adiknya kepadaku, perasaannya pada Findri, hidupnya, idolanya, semua. Bahkan mas Ardhan juga baru tahu kalau kakaknya mencintai orang yang sama dengan orrang yang dicintainyadari diary ini. Dia bahkan menyesal telah banyak bercerita mengenai perasaannya pada kakak kandungnya.
“Bagaimana mungkin orang seperti dia bisa berselera sama denganku?” Mas Ardhan membuatku tertawa. “Bagaimana dengan permintaannya waktu itu, di tengah hujan Semeru? Kupikir kamu perlu memikirkannya. Dia memang orang yang aneh.” Dia mengoceh lagi.
“Masih ada tiga atau empat tahun lagi agar orangtuaku mengatakan iya, lalu kamu datang melamarku dengan daun cemara yang pastinya nanti telah membusuk.” Aku dan dia tertawa, tanpa memikirkan keberadaan Findri, atau mas Ilham yang sudah tiada.
Hari berganti, minggu beranjak menuju pergantian bulan, detik-detik berlalu, waktu secepat senapan peluru atau angin yang berkunjung tanpa sua permisi. Kami masih sama menjalani rutinitas hari-hari kami meski tanpa mas Ilham ataupun Findri.
Benar saja, waktu itu ketika aku genap 23 tahun. Empat tahun setelah kejadian itu, kejadian di belahan Semeru. 10 Oktober 2009 dia melangkah penuh perasaan memboyong keluarganya menuju rumahku. Mengucap akad nikah di saksikan Tuhan dan malaikat-Nya!!!
Tuhan ternyata tidak langsung begitu saja untuk mempertemukan manusia dengan bagian tulang rusuknya yang dihilangkan agar dicari. Banyak cerita dan penuh halangan, terkadang juga menyangkut perasaan. Begitulah aku dan mas Ardhan, melalui mas Ilham Tuhan mempertemukan kami.

§§§§§

Aku masih dipelukannya yang hangat nian. Suamiku, aku telah bersuami. Bukan dengan mas Ilham, tapi dengan mas Ardhan
“Bagaimana kalau pekan depan kita jalan-jalan ke Pos Ranu Pane? Menyapa orang-orang sana. Mengabarkan kehamilanmu?” Mas Ardhan menyarankan hal itu.
“Tentu.” Aku segera mengangguk dan kami kegirangan.
Menikmati hawa hujan, dengan penuh penghormatan. Jujur seiring berjalannya waktu aku memang belum bisa melupakan perasaanku pada mas Ilham, tapi ketaatanku dan ketulusan cinta mas Ardhan menembus abstraksi perasaanku. Aku terkadang malu ketika aku masih mengharapkan mas Ilham kembali padahal di sisiku ada orang sehebat mas Ardhan yang selalu menenangkanku.
Hari cepat sekali berganti, meski tak secepat ketika kami terjebak di Gunung tertinggi se-Jawa sampai pernikahanku dengan mas Ardhan. Akhirnya rencana kami berjalan. Kami menuju Pos Ranu Pane di lembah Semeru. Bernostalgia di sana, bercerita, bersyukur, berbagi dan tak lupa melihat daftar orang yang meninggal di Keabadian Semeru ini.
Telunjuk mas Ardhan bergerak sesuai guratan tulisan, mengarah ke bawah dan kami menemukan namanya “Ilham Alamsyah 16 Desember 2005” Tapi tunggu, lihat tulisan itu. Mas Ardhan tergagap-gagap mengeja namanya, nama yang begitu familiar dan pernah kami pertanyakan. Nama itu “Ikda Findrina" 10 Oktober 2009”
“Fi...fin.. dri.. Findri meninggal di sini, dan lihat tanggalnya. Itu tanggal pernikahan kita. Bagaimana bisa? Tuhan memang selalu punya rahasia. Tapi sayang di sini tidak tertulis data lengkapnya.” Mas Ardhan memelukku yang sebenarnya tidak bisa menerima kematian Findri yang tanpa kabar jelas ini.
“Oh, Akhirnya kita tahu dimana Findri. Findri dan mas Ilham abadi di sini. Findri memang setia dengan cintanya. Mereka abadi di Semeru. Di puncak keabadiannya.” Aku tergugu dan mas Ardhan tersenyum mengiyakan. “Tapi aku malu pada sahabatku. Hari itu kita sedang berbahagia, Mas. Tapi dia sedang berjuang, berjuang untuk kehidupannya.”
Tak ada kejutan ulang tahun dariku dan Findri untuk mas Ilham, tak ada kata-kata manis dan say happy birthday, tapi aku tahu kamu abadi dan tersenyum di alammu. Penuh perasaan, dan perasaan itu aku yakin tidak pernah sedikitpun kamu menghapusnya meski harus terkubur bersama jasadmu. Tapi jiwamu, jiwamu lahir kembali pada sosok yang saat ini menjadi pendamping hidupku. Terimakasih telah mengajariku makna dari pengorbanan, mas Ilham dan sahabatku Findri. Kalian abadi di bukit raksasa ini, di puncak keabadiannya. Abadi di hatiku dan hati mas Ardhan.




Daftar Pustaka
• Badi, Rudy. 2009. Soe Hok Gie Sekali Lagi. Jakarta: PT Gramedia.
• Gaarder, Jostein. 1996. Dunia Sophie. Bandung: Mizan.
• Partanto, Pius A; M. Dahlan Al Barry. 1994. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: Arkola.
• Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Semeru; Mount Everest

6 komentar:

  1. cerpen yg mbak buad sdah sngt baguz,,,
    apalagi di dkung kata2 kiasan n kata2 konotasinya,,, cuma kata nya ada yg kajawa2an "menilik",,,
    isinya smakin meyakinkn saya soal cinta yg bgitu misteri,,,
    congratz mbag,,, smga bza buat cerpen lbih bnyak n lbih baik lgi,,,

    BalasHapus
  2. hehee.. terimakasih atas responnya..

    sekedar menanggapi ya,Dek
    "menilik" sudah diakui dalam EYD meskipun merupakan saduran dari bahasa Jawa tapi sudah dicantumkan dalam bahasa Indonesia. :D

    BalasHapus
  3. hehehe,,, q malah yg bru taw,,,
    hmmm,, klo gtu sukses wad mbag,,,

    BalasHapus
  4. Insya Allah
    Sekali lagi terimakasih
    :D

    BalasHapus
  5. nduk.... subhanallohh... aku terharuuu...
    aku sedang merasakan hal ini... hahahah
    smangat2,

    BalasHapus
  6. sipp, Mbak
    :)
    Semangat Semangat
    follow, Mbak

    BalasHapus