Ima kecil..??? Pemalu!! Sangat pemalu!! Perlu bantuan orang tua untuk bergaul dengan teman-teman yang lebih tua dariku.
Waktu itu, saya masih kelas satu (SD) di SD N II Ngawonggo. Empat hari saya bersekolah di SDII (Islam Internasional) Tanjung Juwiring. Empat hari?? waaa.....!!! Saya keluar, gara-gara sekolah saya jauh dari rumah, membuat saya yang anak rumahan selalu kangen dengan ibu saya, selalu membawa foto ibu saya. Ya sudahlah, dengan bujuk kuat dari ayah saya yang ujungnya gagal juga, akhirnya saya dipindahkan di SD N II Ngawonggo, dengan syarat
saya harus sekolah sore di MDM Sentono (sekolahnya pukul 15.00-16.30 sekolah ilmu Islam). Mengamati setiap hari saya selalu di rumah sembari mendengar dongeng-dongeng dari ayah saya, merasa takut kalau saya tidak bisa bersosial, akhirnya ayah saya memaksa saya untuk bergaul (bermain) bersama teman-teman yang rumahnnya hanya sekitar 15 langkah dari rumah saya.
saya harus sekolah sore di MDM Sentono (sekolahnya pukul 15.00-16.30 sekolah ilmu Islam). Mengamati setiap hari saya selalu di rumah sembari mendengar dongeng-dongeng dari ayah saya, merasa takut kalau saya tidak bisa bersosial, akhirnya ayah saya memaksa saya untuk bergaul (bermain) bersama teman-teman yang rumahnnya hanya sekitar 15 langkah dari rumah saya.
Tapi yaa.. namanya saya!! "IMA" bocah pemalu dan penakut, saya setiap diantar ke rumahnya malah beringsut dan sembunyi di belakang bokong ayah saya. hmmm *geleng-geleng*
Bukan hanya ayah saya yang merasa perlu menggembleng saya untuk hidup bersosial. Pakdhe saya pun juga ikut andil. Pakdhe saya selalu mengajak saya ke rumah tetangga yang punya anak yang bisa mengajak saya bergaul. Tapi kembali lagi sifat pemalu dan penakut saya tidak kunjung hilang. *geleng-geleng lagi*
Akhirnya, pakdhe saya berniat untuk menemani saya bermain sepanjang hari, rajin mengantar saya ke rumah tetangga (begitu juga dengan ayah saya), nilapke (pura-pura menemani padahal sembunyi-sembunyi pulang). Namun hal tersebut membuat saya jadi terbiasa dan akhirnya akrab dengan tetangga saya, dia yang mempunyai nama Zahroh Aschariyati atau yang sering disapa Mbak Ria, mengenalkan saya pada banyak teman. Semua ia kenalkan (meskipun waktu itu baru teman-teman dari Sentono bagian tengah) Mbak Ikah, Mbak Ipah, Halimah, Mbak Kiki, Mbak Iin, Mbak Dewi, Mbak Widya (mbak-mbak semua kan? aku yang paling kecil) sampai yang cowok-cowok juga aku dikenalin.. Mas Indra, Arip, Rozak, Mas Lardhi, Apis, Mas Alan. Saya akrab dengan mereka, mulai kelas dua (SD) saya rajin bergaul dengan mereka. Waktu itu liburan masih satu bulan, *jadi enak* rajin bergaul=rajin bermain membuat ayah saya lebih tenang, tapi kalau terlalu rajin sampai lupa makan siang beliau juga memaksa saya untuk pulang. Mereka terlalu sayang, terlalu protektif.
Kami... saya dan teman-teman saya menjadi sahabat, sahabat bermain, sahabat gegojekan (meskipun waktu itu belum mengerti pengertian sahabat, tapi kami bisa merasakannya) membela/delikan (hide and seek), welwo, pit-pitan bar shubuh, mlaku-mlaku tekan rel sepur Krenekan, nyolong tebu, golek talok, neng pasar blonjo dinggo masak-masak, adus kali, mancing, golek laron, playon, gajulan bal, bal-balan, kasti, lomba-lombanan, karambol, catur, monopoli, menjadi agenda kami setiap liburan, pulang sekolah sore, dan sebelum sekolah sore. Ya Allah masa-masa itu terlampau indah, polos, menyenangkan!!! Saya jatuh cinta pada masa kecil saya yang sangat bahagia!!!
Persahabatan Ima kecil itu abadi, tanpa kenangan, tanpa ketidaktahuan, diabadikan dengan nama KAMSOLI (Kampung Deso Pinggir Kali) :D
Waktu itu yang saya rasakan jam dinding berjalan begitu lambat, sangat lambat bahkan ngesot. Kelas empat saya sudah mulai mengenal teman-teman Sentono dari belahan utara, mereka lebih banyak jumlahnya dari anggota tengahan. Kami... saya, teman-teman tengahan dan kaloran bersatu, bermain bersama. Tapi ironinya, teman-teman dari tengahan yang sudah SMP jarang bermain lagi, apalagi waktu itu (pas saya kelas empat) liburan sudah tidak satu bulan, sudah ganti presiden " :( " waktu kami bersama banyak berkurang, sudah tidak seperti dulu. Akhirnya saya lebih sering bermain sama teman-teman kaloran daripada tengahan. Sempat membenci hal tersebut, sempat risih dengan teman-teman tengahan yang sok sibuk, nggak mau diajak main dengan alasan banyak PR (waktu itu saya belum bisa memahami). Sebel.
Hari-hari belum bisa berjalan seperti biasanya, saya dan teman-teman tengahan masih belum bisa bermain begitu rajin, tetap bermain namun tidak seperti waktu-waktu yang dulu. Sampai pada akhirnya saya pas kelas enam (SD) pindah rumah di Sentono bagian utara (kaloran). Menyedihkan memang, teman-temang tengahan tidak rela, enggan (begitu yang mereka tunjukkan) tapi yaa mau bagaimana lagi? Saya harus ikut orang tua saya.
Benar, setelah hari itu sampai sekarang, kami tiak lagi bermain bersama, melakukan ritual dan agenda kita untuk mengisi jadwal liburan. Saya waktu itu, waktu SMP akhirnya bisa memahami kesibukan mereka, bahkan saya yang di cap terlalu sibuk atau mungkin sok sibuk. Yah begitulah, manusia bisa mengerti tapi tidak bisa memahami kalau tidak merasakan hal yang sama. Meski sudah terbentang waktu, mereka tetap di hati saya, tidak pernah luput.
Terimakasih sahabat, kalian mengenalkan saya terhadap dunia luar, terlebih ucapan terimakasih pada ayah dan pakdhe saya yang selalu memaksa saya untuk bersosial dengan lingkungan.
Banyak cerita tentang KAMSOLI yang tidak saya ceritakan di laman ini, terlalu banyak tapi selalu saya ingat, saya simpan sangat rapi, tanpa saya kenang, karena kenangan sama dengan keberakhiran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar