Ichinichi Tomodachi
by Ima (Imamah Fikriyati Azizah)
by Ima (Imamah Fikriyati Azizah)
Telah tercium olehku semerbak bebungaan menghiasi musim semi. Segar!! Hawa tenang dan berwarna mengisi setiap hati warga Jepang di daerah Syizuoka ini. Pulau Honshu tepatnya, Pulau terbesar di Jepang dengan jutaan keindahan.
“Jangan melamun!!“ Seru seseorang membuyarkan lamunanku.
“Aku hanya ingin menghirup udara musim semi di teien ini, sebelum akhirnya aku pergi!!“ Balasku membuat lawan bicaraku mengendus pelan.
“Mau dango ? Kebetulan ibu membuatkan.“ Katanya menawari sesuatu.
“Habiskan dangomu, dan izinkan aku sendiri untuk beberapa waktu ini!“ Kataku bernada mengusir. “E… Tsuki! Sisakan dangomu di meja itu, tiba-tiba perutku lapar,, dan.. arigatoo!“ Lanjutku sementara ia tersenyum simpul.
Ia pergi setelah meletakkan dangonya di meja yang kutunjuk. Koishii Tsuki-San adalah kakakku. Ia merupakan ninja wanita tingkat tiga yang bersekolah di Koriyama dan usianya sekarang 17 tahun. Ia putri kesayangan ayah. Cita-cita ayah untuk menjadikan kedua putrinya sebagai kunoichi telah dicapai Tsuki. Dan saat ini ayah sedang memintaku agar belajar di sekolah ninja, sementara aku tak pernah berniat. Aku hanya ingin menjadi seorang penulis seperti ibuku yang berasal dari Indonesia. Namun, ayah tetap memaksaku karena kata beliau menjadi ninja telah dijadikan janji di keluarganya.
Hari berganti sementara ayah tak mau melihatku.
“Apa kau telah membuat keputusan Chan?“ Tanya ibu dengan sebutan sayang.
“Apa yang akan ibu lakukan kalau ibu menjadi aku?“ Tanyaku sementara beliau membelai rambut hitamku.
“Ikuti kata hatimu dan hormati ayahmu!“ Jawab beliau penuh wibawa.
“Tapi kalau hatiku berkata tidak? Apa aku masih perlu menghormati ayah?“ Tanyaku kembali.
“Duduk Chan! Hoshi, apa kau sayang ibu?“ Tanya beliau tenang.
“Tentu!!“ Jawabku singkat.
“Apa kau membenci ayahmu?“ Tanya beliau.
“Apa pantas seorang anak membenci ayahnya?“ Jawabku mencoba bijak.
“Menjadi kunoichi memang tak mudah. Perlu belajar. Apa kau tak ingin hidup mendamaikan semua orang dengan jalan ini?“ Terang ibu.
“Apa tak ada jalan lain Bu?“ Tanyaku.
“Hoshi.. . ayahmu itu keturunan ninja, apa kau tak ingin merasakan pengalaman menjadi seorang ninja?“ Tanya beliau lagi.
“Ibu… . kenapa aku harus mengikuti jalan beliau? Sementara aku masih bisa mengikuti jalan keluarga ibu? Tolong, jangan paksa aku untuk hal yang tak kusukai! Aku benci paksaan!!“ Lanjutku membuat ibu memelukku erat.
“Chan.. Ibu hanya berasal dari keluarga jauh yang tak pernah tahu jalan hidup!“ Balas beliau.
“Ibu tahu!! Hanya saja ibu tak memahami! Sudahlah bu, biar waktu yang memutuskan!” Kataku lalu pergi ke teien.
Saat ini sekolah diliburkan karena musim semi. Satu bulan lagi adalah pengumuman kelulusan. Hampir semua temanku bercita-cita melanjutkan sekolah mereka di salah satu sekolah favorit Syizuoka. Sementara aku? Mungkin aku harus menuruti permintaan ayah.
Ku lihat dari kejauhan, ada seseorang sedang duduk di ayunan teien yang sering kutempati.
“Sumimasen, kochirawa watashino basho !“ Kataku sekedar menyapanya.
“Gomen, wakaranai !“ Katanya lalu berdiri menghadapku.
“Anak baru ya?“ Tanyaku.
“Mitsukai..!! Nayo Mitsukai.. Hajimemashite!!“ Ucapnya memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangannya.
“Hoshi! Koishii Hoshi. Douzo yoroshiku!“ Balasku.
“Aku keponakan Paman Lun Nayo. Mohon bantuannya, aku akan tinggal di Syizuoka selama 1 bulan!“ Ucapnya lagi.
“Rumahku yang itu. Kapan-kapan main ya!“ Kataku sembari menunjukkan rumah.
Entah apa yang terjadi. Nayo Mitsukai sungguh mempesona. Dia memang tampan! Ah.. aku jadi malu dengan penampilanku yang tak seperti orang Jepang kebanyakan.
“Gomen Hoshi-San! Kau bukan orang asli Jepang ya? Kulit kita sedikit berbeda nampaknya.“ Tanya Mitsukai membuat jantungku berdetak kencang.
“Aa? Ibuku Indonesia, dia seorang penulis. “ Jawabku sedikit gagap dan ngelantur.
“Oh.. pantas saja kulitmu sedikit coklat. Aku suka kulit seperti kepunyaanmu!“ Balasnya membuatku pingin pipis.
“Ah Mitsukai!“
“Hoshi, Aku pulang dulu ya! Maaf telah memakai ayunanmu! Permisi!!“ Ucapnya pamit diri.
“Iya..iya,, kalau suka pakai saja ayunanku, aku bisa duduk di rumput!” Kataku.
“Terimakasih, tapi wanita yang di atas! Aku saja yang di rumput!“ Balasnya membuat jantungku tak terkendali.
Melamun sejenak dan lalu pulang. Ayah berdiri di depan pintu membuatku takut masuk rumah.
“Chan! Duduk sebentar!“ Ucap beliau memintaku duduk di kursi teras. “Besok kita ke rumah kakek, dan tak boleh izin!! Kita di sana mungkin selama 1 bulan, dan setelah itu kau langsung kami antar ke Nagaoka tempat sekolah ninja“ Lanjutnya setelah mengikutiku duduk.
“Maaf Ayah, tapi aku…” Kataku terpotong oleh beliau.
“Tak boleh izin!!“ Ucapnya tegas, lalu aku berlari ke kamar.
Ku tulis pesan singkat untuk Mitsukai agar dia tak merasa digantungkan untuk menjalin pertemanan denganku. Hingga esok tiba. Aku dan keluargaku bergegas ke Tokyo, tempat kakek tinggal. Ku selipkan suratku di bawah pintu dan ku perlihatkan nama Mitsukai.
Akhirnya kami sampai di Tokyo. Kakek dan Nenek telah menunggu di sana. Tidak!! Ternyata semua keluarga berkumpul dan kami adalah keluarga terakhir yang tiba. Semua datang guna membahas sekolah ninja. Setelah selesai menyalami semua keluarga, aku dan Tsuki pergi ke kamar. Kuceritakan pengalaman sehariku bertemu Mitsukai padanya. Lalu kurebahkan diriku sebentar hingga ibu membangunkanku.
Satu bulan aku harus tinggal di rumah kakek. Sungguh menyedihkan dan membosankan, aku diajarkan ilmu dasar ninja agar aku tak kaget ketika di sekolah nanti. Kebetulan hanya aku yang berumur 11 tahun, yang lain sudah tingkat dua, ada yang tiga seperti Tsuki, bahkan ada yang di bawah umurku namun telah masuk playgroup ninpo atau sekolah akademik yang khusus mempelajari ninja sampai ke akar-akarnya.
Waktu bergulir, akhirnya 29 hari berlalu. Mitsukai? Kira-kira dia telah membaca suratku belum ya? Esok adalah hari pengumuman kelulusan. Kutemui ibu dan kutanyakan kabar sekolahku di Syizuoka.
“Ibu.. besok pengumuman kelulusan, siapa yang hendak datang?“ Tanyaku.
“Ayah. Setelah ayah kembali ke Tokyo dan memberikan rapor padamu, kau langsung dibawa ke Nagaoka.“ Jawab beliau sementara aku mengangguk.
Esok tiba, ayah bergegas ke Syizuoka mengambil hasil ujianku sebelum musim semi. Aku lulus, dan setelah itu aku dan ayah langsung menuju Nagaoka.
“Belajarlah dengan serius Chan! Dan belajarlah sembari menulis!“ Bisik ibu serasa angin pantai menghela nafasku. Aku berdecak lalu memeluk ibu.
“Aku sayang ibu!“ Ucapku sembari memeluk beliau kemudian berganti pada keluarga yang lain dan lalu pergi.
Perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam. Dan akhirnya kami sampai di Nagaoka. Ternyata Nagaoka indah dan sejuk, ada hawa lain ketika memasuki gerbangnya. Hawa tenang yang kudapat dan greget semangat yang membuatku tertarik menjadi ninja wanita atau kunoichi. Apa negeri ini dimanterai ya?
Setelah mencarikan tempat tinggal untukku, ayah pamit pulang.
“Belajarlah dengan serius Chan! Dan belajarlah sembari menulis!“ Ucap ayah membuatku lebih berdecak daripada ketika ibu yang mengucapkannya.
“Ayah!“ Aku tersenum melihat beliau sebentar. “BAIK!“ Seruku lalu ayah pergi meninggalkanku.
Lagi-lagi angin segar yang kudapat. Kata-kata ibu dan ayah membuatku lebih semangat daripada ketika aku memasuki gerbang Nagaoka.
Waktu merangkak pelan, hari ini hari pertamaku memasuki kelas ninja. Ku pandangi setiap koridor menuju kelas. Tak terlalu seram ternyata. Hanya saja aku merasa sendiri disini. Aku berjalan pelan sembari menikmati udara Nagaoka yang segar dengan pepohonan terlihat hijau pupus dari jendela tempat aku berdiri sekarang. Lalu, tiba-tiba seorang anak menabrak bahuku.
“Gomenasai ! “Serunya tanpa menoleh kearahku lalu melanjutkan pelariannya.
Aku masuk kelas setelah kulihat semua murid berlari tunggang langgang. Ternyata lonceng telah dibunyikan dan aku tak mendengar karena keasyikan menikmati alam Nagaoka.
“Moshi-moshi! Okaeri minna-san. Watashino namae Yoro Akaga! Aga Sensei .” Kata pertama guru Aga. “Mohon perkenalkan diri kalian satu-satu! Mulai kamu!“ Lanjutnya sembari menunjukku.
Aku ke depan memperkenalkan diri. Acara perkenalan membuatku bosan. Aku sempat tertidur ketika teman-temanku menceritakan alasan mereka bersekolah di sini. Huh..
Akhirnya acara perkenalan selesai. Pelajaran langsung dimulai.
“Aa! Siapa yang tahu hakikat ninja?“ Tanya Guru Aga sedang jari telunjuknya menuding kami. “Kenapa tak ada yang tahu? Ya sudahlah. Ninja atau Shinobi adalah seorang yang bergerak secara rahasia yang terlatih dalam seni ninjutsu!! Paham? Ninjutsu! Kenapa ninja harus terlatih dalam seni ninjutsu? Apa ninjutsu itu? “ Tanya Aga Sensei lagi membuatku muak.
“Tak adakah yang pandai di kelasku? Oh Dewa Matahari! Ninjutsu itu mengajarkan teknik spionase, sabotase, melumpuhkan lawan, dan menjatuhkan mental lawan, sementara tujuan ninjutsu adalah mengaktifkan indra keenam. Lantas kita juga mengenal ninpo? Ada yang tahu ninpo?“ Tanya Aga Sensei lagi sementara kami hanya diam membisu.
“Hei kalian! Apa harus Aku yang menjawab? Huh! Di dalam ninpo terdapat teknik beladiri tangan kosong(taijutsu), teknik pedang(kenjutsu), teknik bahan peledak dan senjata api(kajutsu), teknik hipnotis(saimonjutsu), dan teknik ilusi(genjutsu). Nah,, di tahun pertama, kalian diwajibkan menguasai ke lima teknik yang Guru ucapakan tadi. PR mempelajari Taijutsu karena esok kalian di rombel ulang menjadi satu kelompok dua orang!“ Lanjut beliau membuatku ingin muntah.
Sekolah akhirnya memulangkan kami. Dengan bunyi loncengnya yang membuat telingaku bergetar, kami berkemas dan lalu menuju rumah. Kuputuskan untuk sekedar jalan-jalan. Di tengah perjalananku, kulihat sungai tenang dan aku berjalan ke arahnya. Aku duduk, mengambil bolpoin dan buku tulis lalu kutuliskan cerita hidupku di dalamnya untuk ku terbitkan.
Matahari mulai sedikit redup, sinarnya tlah berada di arah barat. Ku tengok jam tanganku ternyata sudah pukul 17.00. Kututup bukuku dan aku bergegas pulang.
Aku belajar dan sesekali mencoba jurus taijutsu di belakang rumah, namun sebuah tangan menarikku dan tangan itu mengajakku bergulat. Ternyata seorang laki-laki sebaya denganku.
“Dari tadi kuperhatikan kau belajar taijutsu! Tapi sayang, kau kurang cerdas memainkannya. Mau berkelahi denganku? Akan ku perlihatkan taijutsuku yang indah!” Katanya sombong.
Tanpa basa-basi ku serang ia dengan taijutsu amatiranku. Dia memang hebat. Ketika ku tendang kepalanya, dia dapat menangkap dan menebak gerakanku. Kecepatannya luar biasa. Aku kalah dan aku mulai capek.
“Siapa sebenarnya kau?“ Tanyaku sementara wajahnya kebingungan.
“Aa? Myouri Nayo!“ Jawabnya membuatku kaget. “Kau Koishii Hoshi?“ Lanjutnya.
“Nayo? Apa itu nama klan mu? Dan darimana kau tahu namaku?“ Tanyaku.
“Bukan nama klan! Aku tahu namamu karena kau yang mengatakan!“ Jawabnya.
“Aku belum bertemu kau sebelumnya!“ Jawabku kebingungan.
“Asal kau tahu. Saat perkenalan di kelas akademik tadi, kau hanya tidur jadi kau tak mengenaliku. Dan saat kau memperkenalkan diri, kau hanya melihat barisanmu saja, jadi kau tak melihatku yang duduk di pojok belakang! “ Terangnya.
“Jadi kita satu kelas ya? Nayo, aku capek, ingin pulang. Matta Ashita ! Kataku pamit.
Aku masuk rumah dan ku intip ia dari jendela. Dia terdiam memandang langit lalu menunduk dan menuju ke arah timur.
Hari berganti. Para guru dan murid tlah siap menantikan pengumuman kelompok.
“Hoshi Koishii, Myouri Nayo.” Seru Aga Sensei. Baru semalam kenal, ternyata aku berkelompok dengan Myouri. Dia, mengingatkanku pada Mitsukai. Oh!
Pengumuman selesai, pelajaran dimulai. Kami diajarkan Taijutsu atau bela diri tangan kosong. Dan Myouri sangat indah memainkannya.
Kami belajar bersama. Menguasai jurus-jurus dengan begitu cepat. Hingga tiga tahun akhirnya terlalui, dan kami naik tingkat. Saat ini aku menikmati menjadi seorang kunoichi, tentunya sembari menerbitkan tulisan-tulisanku. Beruntungnya, di Nagaoka ada tempat penerbitan dan semua ninja disini menikmati cerita- ceritaku. Aku bersemangat, ini karena pesan ayah dan ibu sebelum aku belajar di Nagaoka dan karena Myouri yang selalu mengajariku tentang kehidupan ninja yang menegangkan namun menyenangkan.
Di tingkat kedua, para murid telah diberi misi-misi untuk meningkatkan daya fikir dan fisik baik di dalam Nagaoka atau keluar Nagaoka. Tiba di suatu hari, aku dan Myouri diberi misi untuk menangkap penjahat kelas geno di Syizuoka. Kalian tahu? Aku pulang meski hanya dalam misi ini saja.
Dengan shinobi shozoko warna hijau ketat, perjalanan dimulai dan kami tiba pada malam hari. Ternyata tiga tahun berlalu, Syizuoka menjadi lebih berwarna. Ketika aku pergi dari Syizuoka menuju Tokyo, musim masih semi. Saat itu pula ketika aku berjumpa dengan Mitsukai. Kini, bersama Myouri teman terdekatku, aku kembali pulang meski hanya sebentar dan terikat misi. Berharap misi ini selesesai dan aku bisa menemukan Mitsukai.
“Myouri.. maukah kau kutunjukkan tempat kesukaanku??“ Tanyaku pada Myouri.
“Boleh!!“ Jawab Myouri cepat lalu kami bergegas ke teien tempat favoritku.
Sesampainya di teien, kuhirup udara segar. Aku pergi saat musim semi dan kembali ketika musim semi jua. Teien tak pernah berubah, selalu indah dengan sakura yang memenuhinya.
“Ini teien, Myouri.. indah bukan?“ Tanyaku sementara Myouri menghilang.
Ku cari ia, ternyata ia duduk di ayunanku. Memoriku seperti berputar ke belakang. Aku teringat waktu pertama kali bertemu Mitsukai.
“Myouri,kochirawa watashino basho.“ Kataku sembari menepuk bahunya.
“Gomen, wakaranai!“ Katanya lalu berdiri menghadapku.
“Mitsukai??!!“ Seruku dengan mata melotot.
“Mitsukai!! Nayo Mitsukai.. Nayo Myouri..” Balasnya tenang membuat mataku lebih melotot. Aku bingung!!
Sungguh sebenarnya apa yang terjadi?? Siapa Mitsukai dan siapa Myouri itu??
“Hoshi.. Paman Lun mengajariku teknik mengubah wajah, lalu ku coba mengubah wajahku menjadi sedikit tua. Aku sengaja mengubah nama menjadi Myouri karena aku tak mau kalau kau dapat menemukan Mitsukai dengan mudah. Aku tahu kalau kau akan bersekolah di Nagaoka, ayahmu yang memberi tahu ketika paman dan ayahmu bertemu di sebuah jalan, sehari sebelum aku menabrakmu di jendela kelas akademik. Waktu itu aku sengaja tak melihat wajahmu karena wajahku belum berubah dengan sempurna. Beruntungnya saat di kelas wajahku tlah berubah total… Lantas kemana saja kau sebulan itu? Ayahmu tak bicara pada paman.” Terang Mitsukai atau Myouri.
“Apa kau tak membaca suratku?“ Tanyaku membuatnya mengerutkan dahi.
“Aku tak tahu. Sudahlah, yang penting kita bisa bertemu lagi. Aku tahu alasanmu meninggalkanku dan kamu tahu kebohonganku atas Myouri.” Balasnya bijak lalu mendudukkanku di ayunan dan lalu ia duduk di rumput.
“Apa Hoshi masih bisa menjadi teman Myouri?” Tanyaku konyol.
“Apa Mitsukai masih bisa menjadi teman Hoshi?” Balasnya lalu menatap langit. “Banyak bintang. Bintang itu hoshi kan?” Lanjutnya.
“Ada malaikat di sini. Mitsukai kan malaikat?” Lanjutku, lalu kami pergi menjalankan misi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar