PELANGI
by Ima (Imamah Fikriyati Azizah)
by Ima (Imamah Fikriyati Azizah)
Mentari tak kunjung ku temui, hanya hujan yang temani hari-hariku di musim penghujan ini. Aku masih termenung di jendela kamar tidurku. Berharap secercah sinar sang raja siang muncul dan tibalah sang pelangi indah di kawasan awan. Lantas sebuah memori berkunjung mengingatkankku pada sebuah nyanyian yang pernah di ajarkan guruku 9 tahun yang lalu.
Pelangi-pelangi alangkah indahmu
Merah kuning hijau di langit yang biru
Pelukismu agung
Siapa gerangan
Pelangi-pelangi ciptaan Tuhan
Sejak lagu itu terhafalkan olehku, hatiku berbisik pelan jikalau suatu hari nanti entah kapan aku akan dapat melihat pelangi yang kata buguru pelangi itu indah dan punya 7 warna yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu atau yang sering kita katakan MEJIKUHIBINIU.
Aku Uta, nama yang mempunyai arti lagu. Pelangi adalah sesuatu yang ku tunggu kehadirannya dan ingin ku pandangi ia sepanjang waktu. Jujur 14 tahun aku hidup belum pernah melihat seujung saja keindahannya dan aku berambisi untuk melihatnya.
Aku, Airan, Kaita, Shiran, dan Hatma. Kami adalah satu yang tak akan pernah terbagi. Kami adalah keluarga yang tak akan rela jika satu di antara kami hilang. Ketika satu dari kami merasa sakit maka yang lain ikut sakit. Ketika satu dari kami menangis maka yang lain akan mengusap air matanya karena kami seperti mata dan tangan yang apabila tangan terluka maka mata akan menangis.
Sepulang sekolah di depan koperasi kami berbincang. Namun, entah angin darimana tiba-tiba Airan bersikap kurang enak.
“Kalian sekarang kok sering bikin ulah sih? gaduh lah, telat jam ke enol, ini lah itu lah..bentar lagi kan udah ujian, disiplin dikit dong!“ Kata Airan mengejutkan kami yang saat itu sedang menuju pulang.
“Songong loe… emang kamu nggak pernah telat?“ Sahut Shiran.
“Bolehkan nasihatin sahabat sendiri?“ Balas Airan tenang.
“Maaf Airan, aku senang kamu peduli ama kita. Makasih udah bilang gitu. Tapi apa nggak sebaiknya segala sesuatu yang ingin kita bicarakan sesuai dengan diri kita. Kita harus konsisten!“ Kataku mencoba memberitahu letak kesalahannya.
“Aku kurang suka dengan orang yang tak bisa menerima kebaikan.“ Ucapnya membuatku terkejut.
“Apa kamu kira kita nggak terimakasih ama apa yang kamu bilang tadi?“ Kata Kaita kasar.
“Dengan menyesal, aku berpendapat begitu.“ Katanya lebih membuatku terkejut.
“Apa ada yang berubah dengan dirimu?“ Tanyaku bernada menginterogasi.
“Apa aku harus menjabarkannya?“ Katanya membuatku bungkam seribu pertanyaan.
“Heh kalian ini apa-apaan sih? Kayak anak kecil, udah kita bareng sampai sini aja.” Sahut Hatma sedikit membentak.
“Kenapa gitu? Bukankah kita masih bisa bareng sampai perempatan jalan?” Tanya Shiran.
“Hatma hanya ingin menghindari konflik ide ini. Perdebatan yang seharusnya tidak kita lakukan.“ Balasku memberi tahu. “Assalamu’alaikum” Salam ku mengakhiri perdebatan.
“Wa’alaikum salam“ Balas mereka.
Aku pulang dengan Shiran karena rumah kami searah. Sementara Airan dan Hatma berlawanan arah dengan kami, dan Kaita menuju ke arah timur.
Sesampainya di rumah, ku tengok ponselku dan ternyata dari Kak Eno. Ia adalah seseorang yang ku anggap kakak kandungku.
“Dik, lama nggak ada kabar, sibuk pasti ??
jarang online ya ? aku rajin online lho dik sekarang !!”
“ Ah lagi bad mood,
Kak aku mau cerita. Tapi nggak sekarang, mungkin esok usai pengajian di masjid, bisa kan? “
“Boleh lah, ya udah oyasuminasai”
Hari berganti dan kutepati janjiku menemui Kak Eno sepulang pengajian.
“Mau crita apa dik?“ Tanyanya memulai perbincangan.
“Airan kak, dia berubah dan aku tak tahu sebabnya!“ Kataku lalu menceritakan dari awal kejadian yang aku dan teman-teman alami.
“Cari sebabnya, tak ada seorang pun yang berbuat sesuatu tanpa sebuah alasan. Kalau dia tidak mau memberi tahu kamu yang cari tahu dik!“ Ucapnya mengarahkanku lalu kami berbincang hingga larut.
“Udah malem ni, aku pulang dulu ya?“ Kataku mengakhiri obrolan.
Malam larut, hujan bertambah deras membuatku lelap dalam tidur hingga matahari terbit dari timur.
Aku ke sekolah dan kucari tahu sebab perubahan Airan. Kuhampiri dia dan ku ajak ia bicara di kamar mandi.
“Airan, boleh aku Tanya sesuatu?“ Tanyaku
“Bisakah kita bicara di tempat yang tak sepi?” Tanyanya meminta izin.
“Apa ada yang salah dengan tempat ini?” Tanyaku
“Aku tak suka tempat sepi!” Katanya dingin.
“Sejak kapan kamu sedingin ini? Kamu sedang bicara dengan sahabatmu Airan, cepat sekali kamu berubah ya?” Kataku sementara ia berlari meninggalkanku.
Airan bukan lagi Airan yang aku kenal, bukan Airan si anak yang sopan. Aku benci tapi aku sayang Airan. Aku ingin ia tahu betapa berartinya ia dalam hidupku, Kaita, Shiran dan Hatma.
Waktu berjalan, sudah 2 bulan dan setiap harinya aku, Kaita, Shiran dan Hatma merasa terbayangi senyum Airan yang dulunya menghangatkan. Apakah kami benar-benar kehilangan Airan?
Lalu di sebuah malam aku menemuai kakakku, siapa lagi kalau bukan Kak Eno. Kuceritakan semuanya tentang perubahan Airan yang menyakitkan.
“Pelangi yang kudengar dari berita orang jikalau sinarnya melebihi indah gemintang tak kurasakan lagi Kak. Aku memang belum pernah melihat pelangi tapi aku bisa merasakan hangat kehadirannya. Aku benci Airan tapi aku sayang dia Kak!” Kataku bernada sendu.
“Bukankah orang bijak itu orang yang memaafkan orang lain sebelum orang itu meminta maaf? Apa yang kamu lakukan selama ini hanya menjadi beban hidupmu saja Dik, maafkan Airan karena dia tak tahu kalau dia sedang membuat kesalahan besar dalam ikatan persahabatan. Kakak tahu betapa sulitnya kamu memberi maaf sebelum kamu tahu alasan dia melakukan ini dan sebelum ia memohon maaf sama kamu. Tapi alangkah mulianya kalau kamu memberi maaf dan ingat, semua pekerjaan itu beralasan. Kamu belum butuh jawaban sekarang tapi suatu hari nanti ketika kamu benar-benar membutuhkan jawaban dari alasan Airan maka saat itu juga Airan akan memberi alasan padamu.” Petuah lebar Kak Eno sembari mengambil ponselku.
Ku lihat Kak Eno mencari sesuatu dalam ponselku.
“Cari apa Kak? “ Tanyaku.
“Ah nggak Cuma liat-liat aja kok.” Jawabnya ringan.
Ku tunggu kembalinya ponselku sembari kulihat langit yang sibuk menangis. Itukah ilustrasi hatiku?? Sedingin inikah perubahan Airan bagai hembusan angin yang membuatku kedinginan. Kuputuskan pulang setelah Kak Eno yang kulihat berhasil menemukan sesuatu di ponselku. Kulangkahkan kaki menuju arah barat sembari mengantongi pesan hangat Kak Eno. Sesampainya di rumah, langsung aku berdo’a memohon atas nama Allah.
Sudah lama aku tak merasa seserius ini memohon dengan penuh kerendahan. Biasanya aku hanya memohon dengan sikap biasa-biasa saja, tak ada greget atau ketertarikan hati. Namun sekarang aku benar-benar merasakan haluan lembut Tuhan yang menyaksikanku bersimpuh. Kulihat buku tebal bertuliskan “Al-qur’anul Karim“, aku tersenyum dan kubaca dengan penuh penghayatan hingga aku tertidur dan pagi yang diselimuti embun membangunkanku.
Ku tata semua, berangkat ke Sekolah sebelum akhirnya kulihat ponselku menyala. Ku tekan tombol membuka kunci dan ternyata ada pesan.
Kalian tahu pesan dari siapa? Airan mengirim pesannya untukku.
Adakah waktu untuk kita bicara sebentar ?
Adakah kesempatan untuk kamu bicara padaku??
Tinggalkan cerita lalu, aku ingin bicara denganmu!! Apa itu memberatkanmu?? Dan oh ya,, ajak teman-temanmu. Ku tunggu di Taman sepulang sekolah sebelum berangkat les.
Semoga aku tak lupa dengan permintaanmu!!
Pesan berakhir di tanganku. Ku siapkan diriku untuk menanggapi kata-katanya nanti. Berharap ia memberi alasannya yang aku butuhkan. Lalu aku pun berangkat sekolah.
“Guys! Tidakkah kalian mendapat pesan ini? Airan mengajak kita bicara di taman sebelum berangkat les!” Jelasku pada mereka sembari menunjukkan pesan Airan.” Sapaku pada Kaita, Shiran dan Hatma.
“Seriuskah dia ini? Semoga ini awal dari akhir konflik batin kita.” Kata Shiran
Waktu akhirnya menunjukkan pukul 13.30, kutepati permintaan Airan dan segera menuju Taman bersama ketiga kawanku.
“1 menit, kalian sungguh LAMBAT.“ Katanya ketus mengawali pembicaraan.
“Apa karena kata-kata itu kamu mengundang kami?“ Bentak Hatma.
“Apa kalian tak bisa santai sedikit saja? 1 menit ku buang hanya untuk menunggu kalian.“ Balas Airan membuat kami jengkel.
“Kamu memang lambat! Cepat katakan jangan mengulur waktu!! Bukankahwaktumu tlah terbuang 1 menit?“ Kata Shiran.
“Ya… aku memang lambat,, lambat untuk sekedar berkata maaf….” Kata Airan membuat kami terkejut.
“Ucapkan sekali lagi!“ Kata Hatma.
“MAAFKAN AKU” Ulangnya melebihi suara petir.
“Huh, apa kamu pikir kata maafmu masih berlaku?” Kata Kaita pedas sementara angin meliuk-liuk terbangkan debu tipis.
“Bisakah aku menjadi Airan yang dulu?“ Tanya Airan sedangkan matanya memerah.
“Bukankah kita dituntut untuk menjadi diri kita yang sekarang?” kataku memberi tahu.
“Jangan memelankolis keadaan, apa kami percaya dengan matamu yang akan menangis itu? Cengeng!” Sahut Kaita lebih ketus.
“Keliliban tahu!“ Jawab Airan santai menahan tawa.
“Kurang ajar“ Umpat Kaita yang sedang menahan malu.
“Kalau aku bisa menjelaskan….” Kata Airan terputus oleh Shiran.
“Cukup Airan,, kata-katamu selanjutnya akan membuat kami lebih sakit. Maaf aku tak kuasa melihat dirimu yang memalukan!” Sahut Hatma dan lalu dia berlari menuju kelas.
“Hatma..” Teriakku dan Airan bersamaan sementara Kaita mengikuti jejak Hatma.
“Andai kamu tahu keterdesakan hati kami menatap pilu. Mencoba memahami keberadaanmu yang sungguh tak lagi kami rasakan.“ Kataku membuatnya tersenyum.
“Semua yang kita lakukan pasti beralasan! “ Balas Airan membuatku teringat kata-kata yang pernah dikatakan Kak Eno. Semua yang kita lakukan pasti beralasan, ya Kak Eno pernah bilang seperti itu.
“Hanya saja aku masih labil menghadapi semuanya, aku menderita..... ketika aku harus dibohongi perasaanku sendiri. Aku hanya ingin melupakan sesuatu yang pernah terjadi, aku tak ingin menyakiti kalian dan terutama kamu Uta!!” Lanjutnya yang membuatku bingung.
“Katakan selugas mungkin jangan bernada konotasi! Aku tak mengerti“ Kataku.
“Pelangi yang kita sebut symbol sempat kurasakan kehancurannya. Aku labil kawan….aku bukanlah diriku! Aku..! Aku sempat marah sama kalian terutama sama kamu Uta. Hari itu sepulang sekolah dimana kita nggak bareng lagi, saat itu pula aku tak pulang dengan Hatma. Aku beradu mulut dengannya di tengah perjalanan setelah kalian benar-benar pulang. Awalnya aku menceritakan sesuatu pada Hatma, namun sesuatu itu yang membuat kami marahan.“ Katanya
“Katakan apa sesuatu itu? Hatma tak pernah cerita!“ Pinta Shiran.
“Ya aku memang harus menceritakan. Tapi sebelumnya maafkan aku Uta.” Ucapnya lalu bersujud menyentuh sepatu hitam bertali milikku. “Aku mencintai Kak Eno!“ Ucapnya membuat jantungku sempat berhenti.
“Apa? Gila kamu! Sejak kapan kamu dekat dengan Kak Eno?“ Kataku sedikit marah dan mendorongnya.
“Dari facebook kemudian berlanjut ke sms-an dengan nomorku yang satunya. Awalnya aku tak tahu kalau Kak Eno yang ku cintai itu kakakmu yang setahuku kamu mencintai dia lebih dari seorang kakak jadi-jadian. Lalu setelah kuselidiki ternyata benar dia itu Kak Eno yang sering kamu ceritakan, tapi sungguh Kak Eno tak tahu siapa aku sebenarnya!“ Jelasnya sembari berdiri membuat kepalaku serasa ingin meledak.
“Kenapa Kak Eno tak pernah cerita? Bull shit!!“ Kataku.
“Kak Eno tak tahu siapa aku, jadi mungkin dia menganggap bahwa aku hanya satu dari ribuan temannya yang tak perlu diceritakan sama kamu! Dan semalam Kak Eno mengirim pesan ke nomorku yang asli bukan nomor yang ku gunakan ketika aku sms-an dengan Kak Eno. Dia bilang kalau aku harus segera menyelesaikan masalahku dengan kalian. Sudah itu aja!
“Apa kalian pernah bertemu sebelumnya?“ Tanya Shiran pada Airan.
“Sekali di depan Warnet yang biasanya ku kunjungi.” Jawab Airan.
“Apa kamu belum pernah menunjukkan foto Airan sama Kak Eno?” Tanya Shiran padaku sementara aku menggeleng.
“Semua tlah jelas sekarang. Ini hanya cinta segitiga yang tak perlu dicampur adukkan dalam persahabatan. Katakan Uta, apa kamu mencintai Kak Eno lebih dari seorang Kakak? Dan kamu Airan, apa kamu lebih mencintai Kak Eno daripada Uta dan persahabatan kita?“
“Biarkan aku yang menjawab duluan. Airan aku bahkan tak bisa menjabarkan perasaanku. Biar saja kita sama-sama mencintai Kak Eno, aku tak menghendaki permusuhan antara kita. Dan asal kalian tahu, jikalau perasaanku mencintai Kak Eno benar-benar ada sungguh aku akan menghindari itu karena yang ku butuhkan kasih sayang kakak untuk adik yang tak kujumpai dari diri kakak kandungku! Maafkan aku!” Jawabku jujur sejujur-jujurnya.
“Izinkan aku mencintai kakakmu!“ Lanjut Airan singkat dan aku tersenyum.
“Izinkan persahabatan kita kembali seperti semula! Ketika pelangi kita harapkan terlukis di kawanan awan dan semua nampak nyata. Aku rindu kamu Airan.“ Kata Shiran membuat kami menangis dalam pelukan hangat persahabatan yang lama tak kita rasakan.
“Haha…sekarang juga kamu minta maaf sama Hatma dan Kaita, lalu berjanjilah untuk tak menyembunyikan sesuatu dari kami!“ Pintaku pada Airan sembari berjalan menuju kelas.
“Hatma, biarlah Airan mencintai orang yang dicintainya. Jangan memutuskan haknya!“ Kataku mengawali, “Dan kamu Kaita belajarlah untuk tidak mengatakan sesuatu sebelum kamu benar-benar yakin kalau sesuatu yang ingin kamu katakan itu kenyataan.“ Lanjutku berbicara pada Kaita.
“Aku minta maaf ya! Emb..Kaita, jujur aku tadi keliliban. Maaf tlah membuatmu malu.“ Kata Airan lembut.
“Maafkan aku juga ya? Tak seharusnya aku mengambil keputusan seperti itu.“ Kata Hatma sembari memeluk Airan.
“Kaita, maafin aja!“ Bisik Shiran pada Kaita.
“Ya, aku memang harus memaafkanmu!“ Kata Kaita sementara Airan memeluk Kaita.
Semua tlah kembali. Airan tlah memceritakan alasannya, yang sama sekali tak terpikirkan olehku sebelumnya. Aku teringat lagi akan kata-kta Kak Eno “semua pekerjaan itu beralasan. Kamu belum butuh jawaban sekarang tapi suatu hari nanti ketika kamu benar-benar membutuhkan jawaban dari alasan Airan maka saat itu juga Airan akan memberi alasan padamu.”
Hujan tlah reda dan mentari menyongsong dari tengah condong ke barat. Kami berpelukan dan sekarang lebih tampak seperti teletubbies.
Hangatnya pelukan yang kuharap takkan pernah berubah seiring berjalannya waktu. Kami beranjak ke tempat les setelah puas menuangkan rasa rindu kami pada Airan. Langit tlah tunjukkan kemegahannya, berselimut awan di temani sinar tipis sang raja siang. Ku pandangi langit dengan seksama. Ku lihat ada yang beda, sesuatu yang belum pernah kulihat selama ini. Aku tak tahu awalnya, dan ternyata……………………..
“MEJIKUHIBINU ya?“ Tanya Airan.
“Akhirnya kamu melihatnya Uta.” Lanjut Hatma
“Aku hanya tak percaya Tuhan tunjukkan keajaibannya!“ Sahut Shiran
“Indah bukan?“ Tambah Kaita
“SUBHANALLAH“ Seruku menyebut nama Allah dan kuulangi berkali-kali.
Ku ambil ponselku dan ku kirim pesan ke nomor Kak Eno.
Pandangi langit sekarang juga… cari sesuatu yang berbeda. Kakak kan dapati sesuatu!! Dan setelah kakak dapati itu, maka ku tagih harapan kakak untukku !!
Subhanallah!!
Aku tersenyum memandang pelangi di sudut langit. Kisah cerita yang aku alami berujung pada 7 warna indahnya. Airan, Shiran, Kaita, Hatma dan kamu Kak Eno, aku hanyalah batang korek yang takkan pernah berarti tanpa kalian, karena kalian adalah api yang selalu menghangatkanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar