Demi apa tiga tahun ini. Demi
apaaaaa !
Ah kalau
hati belum bisa sempurna sama yang namanya “ikhlas”, wah susah banget dude buat
legawa. Demi apa tiga tahun ini ? :O
Ya Tuhan,
logikanya, tiga tahun cuma buat
empat hari doang (itu sih bahasanya orang yang
belum bisa ikhlas --> aku
maksudnya). :3Tapi, tetep sih, aku tetap salah satu dari sekian banyak yang tidak pernah setuju dengan ujian nasional. Okelah ujian 2013 ini benar-benar super duper ajib ketatnya. Tapi, banyak hal yang menurutku cuma jadi ajang penyiksaan. Memangnya dengan 20 tipe soal sudah menjamin meningkatnya mutu dari pendidikan berkarakter? Apa iya semua korban UAN bekerja jujur ? NONSENSE. Yang ada selama tiga tahun otak kami disett untuk tunduk pada lembar-lembar soal ujian nasional.
Jadi, singkatnya, aku pingin bilang pada pak menteri, "Bapak menteri yang terhormat, ujian nasional terakhir tahun ini saja ya, adik-adikku tidak usah ada ujian nasional. Kami mohon dengan sangat hormat, Bapak Menteri. Terima kasih."
Nah
daripada ngritisin ujian nasional yang nggak tau-lah ntar bakal ada ujungnya
apa kagak. Mending cerita tentang masa-masa menuju ujian nasional ajalah.
Selepas
dapet rapor penentu, rapor semester lima, aku pack buku-buku kelas 2 yang udah nggak kepake. Aku pilahin dengan
buku-buku yang bakal di-UAN-in. Selain itu juga pinjem bukunya mas Arip, temen
kecilku, pinjem buku-buku IPS buat nyicil belajar karena niat lintas jurusan.
Liburan dulu itu aku kan masa-masa sembuh dari hibernasi :o aku aktif lagi di
kegiatan tempat tinggalku. Pas udah masuk, kelas XII, bener-bener belum kerasa
dan ketara euforia menuju UAN-nya. Dan parahnya aku jalan santai aja, itu
berjalan sampai kira-kira bulan Januari. Baru pas musim para guru sering
nyebut-nyebut ujian praktik, aku “cukup sadar” kalau saatnya nggak tepat buat leha-leha.
Pelan-pelan tapi pasti aku jamah
buku-buku yang sedari dulu pingin aku belai pakai perasaan *lebe*. Aku baca
satu per satu. Sampai akhirnya dateng juga ujian praktik à 25 Februari – 2 Maret 2013.
Senin >> Bahasa Indonesia
Ya
Allah demi apa aku sama pak Samino ??? Rasanya seneeeeng banget. Ceritanya pak
Samino itu guru bahasa Indonesia terkece yang pernah aku temuin. Aku mengambil
pidato dengan judul “Aliran Baru” yang berisi tentang facebook, selain itu juga
menganalisis novel yaitu novelku sendiri, “Teater Senja”. Dan sukur
Alhamdulillah mendapat respon positif dari guru tercinta. Oh tapi ada masukan
juga dari pak Samino, “kurangi penggunaan kata dimana di bagian yang tidak
perlu ya.” Hohoo shiiap, Paak!!
Selasa >> Bahasa Inggris; Perancis
Bahasa
Inggris itu aku dapet descriptive text
dan mendiskripsikan si Batman alias Hanifah Hajah Mahmudah. :D Kata si Sena dan
Damar sih gitu, Hanifah itu kek Batman, liat aja jilbabnya. Oh no! Bahasa
Inggris anggep aja lancar-lah, kejatah sama bu Lis waktu itu. Waktu itu cuma
ditanya tentang habit, family, future, yaa sekitar itu-lah.
Perancis,
oh my Gosh! Cukup lancar sih mbacanya, yaa paling enggak sore-sore main ke
Teloyo-Wonosari ke rumah mbak dyah minta diajarin Perancis hampir
terbayar-laah. Aku dapet teks nomer 1 yang kalo gak salah judulnya Mary Piere
:o ada satu kalimat yang salah ngartiin terus dibenerin pak Addien. Tapi
yaudalaah, no problemo, semua udah lewat. :D
Rabu >> Biologi; Agama
Biologiiii..
!! Pokoknya ya, ketemu Biologi, Kimia, Fisika itu sama aja dengan aku
menghadapi tantangan besar dalam hidup dimana tantangan–bencana itu aku sendiri
yang buat. Oh no!!
Biologi?
Transpirasi? Fotometer? Aku nggak tahu harus aku gimanain uprak Biologi Rabu
itu. Aku cuma percaya, Allah pasti bantu. Itu aja. Daaaan… Yatta!! Allah nolong
aku. Cukup belepotan sih. Percobaannya salah juga sebenernya, oopss. Tapi
dengan alibiku , alibi yang nggak ngebohongin dewan guru pastinya, semua jadi
samar. Heheew.
Jadi
gini, Sist.. Awalnya aku kan ngerjain pratest, and well aku dapat nilai 45 dengan bangganya. Bangga dong, kan
jujur. Pas undian, aku dapat nomor 2. Dan dialah si peralatan fotometer. Ya
Tuhan, aku harus ngapaiiiin ? :O Kelas XI itu aku kan pernah download gambar-gambar alat biologi
gitu, aku cari yang namanya fotometer,
tapi gambarnya aneh banget dan kayak nggak berbau pengukur transpirasi gitu.
-__- H-4 dan malam Rabu itu aku juga sempetin cari gambar fotometer sama cara
kerjanya. Tapi, gambarnya masih meragukan. Pas udah ketemu cara kerjanya, aku
baca sih aku baca, tapi nggak mudeng. Eee lha kok malah keluar di uprakku. Ya
Allah!! Akhirnya aku kerjain sebisaku sambil mengais-mengais ingatan dan main
nalar. Pas ditanya kenapa nggak pake eosin, aku ngasal aja jawabnya, “nggak
dikasih eosin udah kelihatan jalan airnya itu, jadi yaa nggak saya kasih eosin,
Pak. Hhehee.” Dan pak Harjo ngangguk. :D Pas bu Lis, nalar juga jawab-jawabnya.
Pas itu penting aku jawab semuanyalah, cuma itu yang ada di kepalaku. Nggak
peduli salah benernya yang penting ngomong. *Yang ini jangan ada yang mencontoh
yaa, hhee*
Aku keluar
ruangan nomor dua setelah Sena. Baru setelah itu aku dan teman-teman berjuang
di uprak agama Islam. Ada salat jenazah, ngaji, sama tajwid. Sebenernya ada hafalan
Al-qur’an juga, tapi udah selesai pas pelajaran masih efektif. Waktu salat
jenazah aku sempet berhenti bentar karena lupa, untung dibantu Dian tanpa
sepengetahuan pak guru, lha abis pak guru bobok imut #lhooh. :D Yaa pooknya
hari itu terbilang lancarlah, untuk agama maksudnya, kalau Biologi maah
dilancar-lancarin. Hheehe.
Kamis >> Bahasa Jawa; TIK
Kalau
pas ini sih dua-duanya ccuma tanda tangan karena udah ujian praktik pas masih
hari efektif. Tapi waktu itu malah dapet pelajaran dari bapak Gandung yang
super. Ini niih à
Manusia hidup harus menerapkan apa
aitu TRI SUCI :
1. Uni (tutur
kata yang baik dan benar)
2. Rupi (wajah
yang selalu menebar senyum)
3. Ati (hati
yang selalu ikhlas dan bersih seputih tisu)
Jumat >> Kimia
Aku
bingung harus seneng apa sedih. Ya seneng sih dapet Idha temen sebangku, tapi
juga sedih karena lupa cara praktik elektrolisis -___- padahal gampang T.T
yaudah, akhirnya dinalar juga kek Biologi, cuma yang ini lebih terbantu karena
Idha pinter. Nhah, pas wawancara, aku mati di pak Agus Widodo. Lha gimana
enggak, masak iya aku nulis reaksi elektrolisis aja nggak bisa ??? Ya Allah
malu bangeeet. Aku kan udah bilang, Aku mulai “cukup sadar” nggak boleh
leha-leha itu beberapa hari sebelum uprak, jadi yaa kalau nggak bisa begituan
maklumlah. Hikzzz. Pas sama bu Tantri untung setelah pak AW aku belajar lagi
nulis reaksi elektrolisis, jadi Alhamdulillah pas sama bu Tantri lumayan lancar
meskipun ada yang salah dan keluar bentar buat ngebenerin. Tapi yang penting
aku nggak ngewel, soalnya sebelum uprak kimia aku sempet mimpi buruk. -___-
Sabtu >> Fisika
Yohh
Fisika uprak terakhir dapet Irwan. Melde, Maan, meldeee!! Aku semalem wi
belajar nggak masuk-masuk malah nonton X-factor :p jam 23.45 itu disms si Dian
ditanyain tentang materi. Ah ini anak salah alamat ni. Tapi karena ditanya ya
akhirnya aku buka buku dan balas sebisaku. And
how lucky I’m! Kalian tahu malam itu Dian tanya materi apa? Iya, itu. Dian
tanya tentang Melde. :D Ya Allah beruntungnya. J Tambah
lagi si Irwan kan jago Fisika, aku cuma nimbang tali, ngitung-ngitung masukin
rumus, sama nulis laporan. Masalah masang-masang alat gitu, Irwan empunya.
Yeaah!
Season wawancara, pak Kartono nggak
banyak tanya, cuma koreksi laporan, dan okelaah.. banyak yang salah. :/ Pak
Joko Tris nanyanya Fisika banget gitu.. gini ni, “Kenapa senar gitar bagian ujung
lebih tipis daripada yang bagian digenjreng itu?” Aku sih sempet kepikiran apa
karena luas permukaan yaa, eh tapi kok malah kayak materi di Kimia. Dan
akhirnya aku sama Irwan jawabnya dihubungkan ke massa senar itu. Tapi ternyata
salah. Yang bener itu, biar suaranya manteeeb. Alesannya giniii, rumusnya
kecepatan itu kan akar dari gaya dikali panjang dibagi massanya. Nhah padahal
massa itu kan sama dengan massa jenis dikali volumenya. Padahal lagi, volume
itu sama dengan panjang dikali luas. Jadi, didapat rumus baru akar dari gaya
dibagi massa jenis yang dikaliin sama luas permukaan. So, yang nyebabin kenapa
kok gitar suaranya bisa manteb adalah luas permukaannya. Kecepatan berbanding
terbalik sama luas permukaan. Sehingga makin kecil luas permukaan, makin butuh
gaya yang gedhe biar kecepatannya juga gedhe. Tapi kalau luas permukaan gedhe,
tahu sendiri kaaan.. berarti kita harus ngirit gaya dan nggak usah cepet-cepet.
:D
Gitulah
Fisika, aseeek aselole. Fisika Alhamdulillah menjadi penutup yang baik untuk
sepekan ujian praktikku. J
Baiklah,
selesai curhatan mengenai ujian praktik yang sejujurnya adalah ujian
termenakutkan kalau dibanding ujian tulis, terkhusus di Biologi, Fisika, Kimia,
ya karena merekalah yang membuatku susah duduk dengan tenang. Sekarang kita
menuju ke hari Senin, 4 Maret sampai Kamis, 7 Maret 2013. First Try Out akhirnya digelar. Kalian tahu apa yang terjadi
denganku? Aku sangat sibuk dengan kemalasan, sibuk dengan ketidaksadaran, sibuk
dengan hantu-hantu yang mengganggu pikiranku. Dan hasil daripada TO pertama
adalah AKU BELUM LOLOS bersama kelima teman XII IPA7. T.T Jujur memang ada
banyak hal yang mendukung ketidakberhasilan itu, baik masalah intern atau
ekstern. Dimulai hari Sabtu (H-2 TO1) paling enggak ada empat kejadian yang
menyerobot celah fokusku *nggak bisa cerita di sini*. Aku juga udah rajin
konsul kok di bimbel, tapi otakku sedikit pun belum nyantol, yang ada cuma idealisme bahwa aku bisa melewati semuanya
dengan baik, tapi usaha dan doaku masih di kemiringan jalan.
Kalau
kalian ingin tahu sejak kapan aku mulai “menuju” serius yang belajar, boleh
dibilang 9 Maret adalah hari on fire-ku.
Hari itu pulang sekolah aku privat Fisika sama mbak Nanik, malamnya belajar
Sejarah, Minggunya masih belajar lagi. Terlebih dikarenakan hari Senin, 11
Maret sampai Senin, 17 Maret 2013 aku menempuh ujian sekolah.
Ujian
sekolah berlalu biasa aja. Aku belajar, berdoa, dan on fire. Hari-hari itu aku menggenggam erat sebuah kata “Pilihan.
Fokus.”, aku move on, Saudara J
Menuju
ke TO-2 yaitu Senin, 25 Maret sampai Kamis, 28 Maret 2013. Dan lagi aku harus
bilang TO-2 biasa saja, bedanya hanya aku lebih hati-hati dan mulai sering
diprivat Kholida, Santi. Aku rasa TO-2 aku punya modal buat lulus, tapi
ternyata Matematika merubah pikiran positif itu. Hari Selasa TO-3, pengumuman
udah ditempel, membuat aku nggak konsen pas ngerjain bahasa Inggris. Dan
setelah lihat hasilnya dengan Dinar, membuat Fisikaku juga sama nggak
konsennya. Aku nggak lulus karena Math-ku di bawah angka empat, Dudeee. TT
Kayak
di-ontang-anting sama badai, aku
sempat beringsut, tapi segera semangat lagi pas Hanifah bilang bakal kasih
bantuan di Math-ku. Nggak mau larut di kesedihan (kebencian), aku bergegas ke
bimbel. Semua konsentrasiku tumpah, aku belajar Math nggak kenal capek.
“Pilihan. Fokus.”
Boleh
dibilang mulai TO-2 aku hampir nggak kenal rumah. Pagi berangkat sekolah pulang
zuhur, makan langsung bimbel pulang maghrib, lepas isya belajar lagi. Di rumah paling
enggak ada tiga tempat yang menjadi napak tilasku di perjalanan menuju UN 2013,
kamar yang nggak pernah rapi karena buku-buku nyebar dimana-mana, balkon rumah
(sampai aku nulis rumus Fisika di genting rumah bagian depan yang bisa
dijangkau dari balkon), dan teras rumah. Aku deactive facebook-ku pas TO-2 sampai dampaknya aku kehilangan dia
(karena sepertinya ada yang meng-hack).
No movie sejak tahu kalau belum
berhasil di TO-1, tepatnya 17 Maret 2013. Dan bahkan aku break dari baca buku-buku non
mapel. Aku tahu melepas mereka sama aja menguliti kulit sendiri. Tapi
apalah artinya facebook, film, dan buku kalau membuat masa depanku suram (kalau
dihubungkan dengan UN jadi gak ikhlas yang ngomong).
Beralih
ke TO-3, Senin, 1 April sampai Kamis, 4 April 2013, di sini ni yang membuat dheg-dheg sir-nya ibuk mulai luruh
seper-sekian persen. Aku lulus, Buddies.
Udah gitu aja.
Menuju
TO-3 dan selesai TO-3 (4/4) aku ngapalin Biologi sama Tia, berdua aja dan baru
kali itu aku sama Tia sadar kalau ngapalin Biologi emang enaknya diapalin
bareng temen. Menghabiskan 11 hari sebelum akhirnya empat hari “penentuan” itu
tiba. Aku sibuk dengan buku, aku juga sibuk tanya ke siapa aja, gak peduli laki
perempuan. Waktu itu aku belajar ganti-ganti pengajar, mulai dari Moko, Bagas,
Vian, Arifah, Idha, Annur, Irwan. Waktu itu (11/4) juga belajar bareng sama
Sena dan Agil di pojok kelas (ceritanya kami bertiga sama-sama korban gak lulus
TO-1 dan merupakan yang paling doyan ngebo di kelas, bedanya aku aja yang belum
pernah ketauan sama guru :D).
Uhuuk
>> Senin, 15 April 2013. Uhuuk Kamis, 18 April 2013. Serbuuuuuuu !!!!!!!!
Senin >> Bahasa Indonesia
Setelah
melewati hari-hari yang crowded, aku
cuma punya pegangan yakin. Malam Senin itu aku ditelpon mbak Tika Faiza, dan
berasa dapat setrum yang daebak
banget, aku cuma bisa senyum anteng—kalem.
Banyak
banget yang kami obrolin, mulai dari jurusan yang aku ambil di SNMPTN,
persiapan UAN, hubunganku dengan Allah, kepasrahanku dengan semua yang udah
terproses dalam kuantum, banyak banget. Kalimat mbak Tika yang paling betah di
kepala, “Dek, berdoa adalah mengenai
raja’ dan khauf kita pada Allah. Kita memang harus selalu optimis, tapi coba
kamu minta juga sama Allah, kalau sastra Jepang maupun Komunikasi belum jodoh
denganmu, minta sama Allah biar ditunjukkan yang terbaik. Dengan begitu kita
akan lebih semeleh dan pasrah pada apapun keputusan Allah.” Mbak Tika itu
sekali mengeluarkan kalimat langsung nyangkut
di hati paling dalam :D Subhanallah banget satu orang itu.
Ya, itu
cerita pengantar menuju hari H-ku. Aku berangkat cukup siang, sekolah udah
ramai banget. Sebelum masuk ruangan, anak-anak IPA 7 berdoa bareng, aku yang
pimpin.
“Allahummaj’alhu sahla illa ma ja’altahu sahla wa
taj’al hazana idza syi’ta sahla.”
Aku duduk
setenang mungkin, tersenyum sangat membantuku ternyata. Mulai mengerjakan
sebaik mungkin, menemukan beberapa soal yang bacaannya tidak asing karena
mengutip dari buku-buku sastra yang sering aku baca. Hari itu bahasa Indonesia
berjalan lancar.
Selasa >> Fisika, Bahasa Inggris
Masyaallah
Fisikaaaa T.T
Ujian
Nasional terparah !! Ada perubahan penanda waktu yang belum disampaikan ke
siswa. Bel satu kali yang ketika hari Senin merupakan penanda kurang lima
menit, hari itu adalah penanda waktu habis. Pukul 09.00 aku masih terlalu
santai, membalik-balik soal dan hasilnya nggak ada peningkatan, aku tetep
buntet buat menjawab. Tiba-tiba waktu mulai lebih cepat bergerak daripada
biasanya, bel terdengar, ya Allah di LJK kurang lebih tujuh nomer yang belum
aku isi, mana aku juga nggak ketemu jawabannya sementara pengawas udah muter
mengambil LJK kami. Aku ngewel sepuasnya
sampai tanganku gemeter nggak bisa buat ngisi LJK. Aku noleh ke Tasya dan Dian
saking gugupnya (bukan buat tanya jawaban lhoya, ngapain juga tanya orang kode
soalnya aja beda). Tasya lihat aku dengan muka datar, sedangkan Dian sontak
mukanya ikut gugup. Aku gemetar luar dalam, lalu tiba-tiba ada suara salah satu
dari kami, “Pak, belnya masih lima menit kok.” Begitu mendengar kalimat itu,
sambil terus mencoba tenang, aku ikut ambil suara, “Iya, Pak. Kurang lima
menit.” Karena pengawas jadi ikut bingung, ia diam tidak melanjutkan menarik
LJK siswa. Bagus, kesempatan buatku. Tiba-tiba suara pak Winoto, guru
Matematika, merambat melalui hampa udara lalu terjun memenuhi sel-sel otakku.
Tergambar jelas ketika sedang mengajar jam klinis beberapa hari sebelum UAN, pak
Winoto dengan santainya menjelaskan kunci tenang ketika sedang gugup, “Duduk
tegak, mendongak, ambil napas sedalam mungkin karena oksigen di atas kepala
kita lebih banyak daripada yang ada di depan kita, buang pelan-pelan melalui
mulut, dan rasakan rongga dadamu menjadi lebih ringan.” Seolah mendapat
instruksi dari sang guru, aku melaksanakan dengan baik. Ya memang masih ada
celah getar yang membuatku terengah. Tapi, setelah menjalankan resep pak
Winoto, paling tidak aku berhasil mengisi kurang lebih tujuh nomor yang belum
hitam. Tuhan, Fisikaku !! TT
Kalau
Bahasa Inggris, cukup lancar-lah.
Pulang
sekolah bohong kalau aku merasa lega. Aku gugup setengah mati. Cuma butuh Allah
buat mengadukan semuanya. Zuhur itu aku pergi ke mushala sekolahan, pas di kamar
wudlu ketemu Dian, mukanya langsung berubah pas lihat aku.
“Dian,”
“YaAllah
Ima, Fisika.”
“Ha,
Fisika?”
“Im,
aku kalo liat kamu jadi inget Fisika.” L
“Eh
lha kenapa, Di?”
“Soalnya
tadi kamu gugup banget, Im. Pas noleh ke aku matamu merah, aku takut.”
Ya
Allah, berasa detik-detik terakhir Fisika aku bertransformasi jadi vampire sampai bikin Dian ketakutan.
Sore itu aku beranikan diri cerita ke ibu, aku bener-bener butuh nasihat dari
ibu waktu itu. Respon yang aku dapat dari ibu, muka beliau juga berubah (tapi
gak se-ngeri Dian), ibu nggak banyak bicara (tumben) aku diingatkan lagi buat
fokus ke nomor-nomor yang sekiranya aku bisa, kalau emang nggak bisa yaudah
tinggal alias ngawur. *Tapi masalahnya terlalu banyak nomor yang aku nggak
bisa, Ibuk.*
Rabu >> Matematika
Pesan ibu
aku pegang. Dan pagi itu di Matematika aku menerapkan wejangan ibu. Setidaknya
Matematika lebih baik daripada Fisika.
Kamis >> Kimia, Biologi
Perutku,
Mameen. Gek apa ujian nasional perutku mules minta ampun. Aku salah makan pas
hari Rabunya, perutku panas dan baru pukul 8.30 pas dapet beberapa nomor soal
Kimia perutku susah diajak kompromi. Puncaknya pukul 9.00, perutku hampir
meledak dan untungnya 40 soal udah rampung, segera aku teliti dalam posisi yang
mulai polah. 9.10 nggak peduli apa kata isi kelas, aku izin ke belakang. Begitu
waktu kurang lima menit, aku baru kembali. Tiba-tiba bu guru pengawas (yang
sedari awal ngobrol sama temennya) menghampiriku.
“Mbak,
perutnya sakit ya?”
“Iya,
Bu.”
“Mau
dikasih minyak?”
“Nggak
bawa, Bu.”
“Saya
bawa.”
“Makasih,
Bu. Nanti saya minta obat di UKS saja. Nggak pa-pa kok, Bu.”
Aku
lihat lagi LJK-ku dan sekilas melihat halaman demi halaman soal. Aku rasa Kimia
tidak sesulit Fisika dan Matematika, parahnya ya cuma perutku yang mules
tingkat dewa.
Sesusai
Kimia, aku ditawan kawan-kawan yang doyan menertawai musibahku, yaAllah !
Biologi
untungnya udah mengendap melilit di perutku. Nomor demi nomor yang lebih mirip
penerapan kehidupan sehari-hari, aku
selesaikan sebisa mungkin. Dan ya, aku keluar bermodal muka seadanya. Tapi, ada
satu hal yang benar-benar luruh à
AKU AKHIRNYA KELUAR DARI NERAKA
YANG AKU GALI SENDIRI, AKU KEMBALI KE LAUTKU :D
Bersambung . . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar