Kamis, 18 Agustus 2011

15 Sudah Berubah Menjadi 16


Apa yang terjadi dengan hari ini??

Allah, bahkan aku sempat lupa dengan hari ini. Entah, apa karena aku tidak mau mengingatnya, atau karena rutinitas yang membuat tak sengaja lupa.


Bukankah tahun-tahun yang lalu, aku terlihat aneh ketika bertemu dengan 18 Agustus?
Bukankah dulu aku sering mengharapkan kata-kata "selamat ulang tahun ya" dari ibu bapak kakak dan sahabat-sahabatku, bahkan berharap orang yang tak mengenalku pun mengucapkan patah kata itu.
Bukankah aku selalu stay coon memegang hand phone jikalau tiba 18 Agustus??

Tapi, ini tahun yang aneh buatku. Aku berani berkata tidak untuk menjawab petanyaan-pertanyaan itu jika aku mempertanyakannya detik ini. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah tidak relevan. Herannya, aku senang dengan keadaan ini. Keadaanku memahami, merasakan, dan memaknai 18 Agustus.

15 kini sudah berubah menjadi 16.
Menjadi tua itu pasti, namun menjadi dewasa adalah pilihan.
Bahkan termasuk dalam memaknai perubahan angka itu, perlu dibutuhkan kedewasaan.


Aku cukup bisa dibilang lupa dengan hari ini (18 Agustus 2011)
Semalam aku belajar Biologi (Alhamdulillah cukup puas dengan pekerjaanku). Di Sekolah juga Biologian lagi. Pulang Sekolah?? Ah, biasalah.. Nongkrong di Mushalla. Tapi tadi aku sama Fatma ke MBC nembusi Ustadz (Alhamdulillah sudah dapat Ustadz-ustadz training untuk Pesantren Kilat). Balik lagi ke sekolah, duduk simpuh di Masjid dengerin Pak Nashan (Astaghfirullah, aku banyak ketinggalan dan kurang fokus). Pulang-pulang, masih serba-serbi asam ketek :D tapi sudah ditamoni sama adik-adik yang mau lomba pidato (ceritanya, dua anak itu minta belajar bareng-bareng sama aku). Tapi tapi tapi, berhubung ada kesalahan di undangan buber NA (yang baru dikabarin pukul 13.00 kalo Gedung Muhammadiyah baru direhab), akhirnya aku ninggalin dua bocahku buat mbenahin undangan (Alhamdulillah nggak menyita banyak waktu). Pulang dan lalu belajar pidato sama adik-adik. (gini ni, mereka berdua tuh suka malu-malu kalau mau pamit pulang. Misal, latihannya selesai jam 17.00, ee baru berani pamitnya jam 17.30 :D dasar!!!). Habis buka puasa piket dulu di masjid (makasih buat Ibu, Mas Bagus, Ibu-ibu yang sudah membantu saya). Pulang langsung nyari kultum, beruntung Ibu ngusulin kalo kultumnya pakek yang dipakek bocah-bocah lomba aja, toh aku udah cukup tahu intinya. Adzan langsung ke masjid Wustha. Alhamdulillah kelar juga kultumnya. Dan sekarang, sekarang sekarang sekarang, ngedhep laptop, blogging, Gan.

Aku sudah bercerita soal hari ini, hari yang memang sama seperti hari-hari biasanya. Lebih banyak tersita untuk orang lain daripada untukku sendiri.
Bukankah hidup memang harus begitu? Bukankah hidup itu bukan untuk kita, tapi untuk orang lain??
Ya, aku telah paham dan sedang belajar menerapkan kata-kata itu sekarang. Beruntung, Allah membantu dan mempermudahkanku untuk mengaplikasikannya.
Di usia 15 memang punya banyak cerita. Tentang pendekatanku pada Allah melalui Majlis-majlis yang sengaja aku ikuti, terutama Romansa dan Fariska yang menjadi jalan dakwahku. Tentang seorang Ikhwan yang saya sukai (bahkan sampai sekarang masih tetap menjadi perasaan yang terpendam dan berharap tiba-tiba hilang). Tentang Jenesys saya (do'akan ya, Gan.. pengumumannya ditunda jadi Oktober). Tentang segala dinamika dan romantika hari-hari yang cukup luar biasa.
Aku merasa energi kinetik itu bekerja pada hatiku. Yaa.. Hatiku yang bergerak, bergerak dan berpindah menuju sebuah jalan yang disebut kebenaran walaupun dalam tahap susur jalan. Kesenangan karena dapat bersyukur, rasa syukur yang disebabkan keikhlasan, menjadi kunci yang beberapa kali membuka gembok hati ketika sedang temaram.

Rasanya, masalah terbesar di usia 15 tahun adalah tentang kegalauan (kegalauan yang jujur saja baru ketahuan waktu bulan Juni). Galau dalam beberapa hal, tentang perasaan, tentang kesibukan-kesibukan organisasi yang memang belum terbiasa, tentang perbenturan persepsi setelah terjun ke dunia Jenesys yang membuatku cukup merasa tidak punya pedoman hidup.

Aku dibenturkan dua pilihan yang sebenarnya aku tidak perlu memilih, hanya tinggal bilang "iya, aku jalani semuanya" tapi rasanya aku sulit sekali untuk sekedar mengangguk setuju. dua pilihan itu adalah, tentang amanah menjadi seorang Amirah dan belajar menjadi Budayawan yang keobjektifannya sering bertabrakan dengan garis tepinya Agama Islam.
Galaugalau tak berpedoman, aku bener-bener merasakan hal tersebut.
Tapi, aku percaya aku punya Tuhan, punya Ilah, punya Allah Subhanahu wa Ta'ala

Oke.. selamat datang masalah-masalah, mau segedhe apa kamu, aku punya Allah yang lebih gedhe kuasaNya. (tepuk tangan)

Lalu, hasil dari perenunganku beberapa hari, aku sedikit-demi sedikit menemukan jawabannya. Ternyata aku hanya perlu menjalani dua-duanya tanpa memilih salah satu pun, ikhlas dan menyerahkan semuanya ke Allah.

Oke.. Nggak papa aku sering salah. Toh Allah juga Pemaaf, kan? Asal aku mau salah dan mau merubah. Yayaa.. aku salah lalu memperbaiki.

Intinya, aku punya Allah yang lebih gedhe dari semua hal. Aku nggak pernah sendiri untuk menjadi seorang dewasa, ada Allah yang siap membantu. Aku juga nggak perlu memilih sesuatu yang nggak perlu dipilih, daripada ujung-ujungnya cuma galau.

Aku, dengan segala kekuranganku. Belajar dewasa dengan mendewasai diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar