Senin, 18 April 2011

Sahabatku I5F6

Harusnya tulisan ini saya post jauh-jauh hari, jauh-jauh bulan, bahkan jauh-jauh tahun. Bagaimana tidak? Saya mengenal sosoknya sudah dari kelas 2 SD. Tapi baru terpikirkan untuk mengenalkan dia sekarang ini.
Gara-gara teman-teman Kamsoli, Allah mempertemukan saya dengan satu orang ini. Anak kaloran yang paling tomboy,
Farida Purnamasari, namanya. Ia lahir 6 Mei 1994. Tinggal kurang lebih 20 langkah ke arah timur dari rumah saya. Mempunyai satu kakak laki-laki, satu kakak perempuan dan satu adik perempuan. Ia menikmati masa belajarnya di TK Bustanul Athfal Sentono Ngawonggo Ceper Klaten kemudian ke SD N 1 Ngawonggo, melanjutkan ke SMP N 1 Ceper, kemudian ke SMK N 1 Klaten. Saat saya sedang menulis laman ini, mungkin saja ia sedang mempersiapkan untuk besok hari kedua UNAS SMA/SMK/se-derajatnya. (Semoga diberi Allah kemudahan selalu ya, Shob!! Istiqomah selalu :* )
Saya ingin bercerita banyak tentang dirinya, tentang I5F6 (I5 untuk Ima dan F6 untuk Farida). Tentang awal kita bisa menjadi sahabat, tentang segala konflik yang pernah kita alami. Tapi akan lebih baik kalau teman-teman bertanya langsung pada kami.
Baiklah, akan saya mulai bercerita...
Kami bisa full dan sering main bareng waktu saya masih kelas 4 SD dan dia 6 SD. Waktu itu saya lebih sering ke kaloran gara-gara teman tengahan pada nggak seseru dulu lagi, mereka sudah sibuk dan mengurusi urusan lain. Waktu terus berganti, ketika saat itu saya pindah rumah dan rumah kami lebih dekat. Saya jadi lebih sering bersama dia, bersama Mbak Ida, begitu saya menyapanya.
Pernah dulu pas kelas 4 SD itu saya bilang gini ke dia "Mbak, awak dewe iki shobat dudu sahabat" *bedanya apa ya?? :D hahaa dasar masih kecil belum mudheng apa-apa* sampai akhirnya, kita bener-bener mulai deket itu waktu saya kelas 6 SD dan dia kelas 2 SMP. Kami sering curhat, tentang apa saja. Terkadang kami bercerita tentang keindahan Allah Subahanahu wa Ta'ala, tentang ciptanaan-Nya, tentang keajaiban-Nya, tentang kehidupan kami, tentang masalah kami. Semua tumpah ruah dari dulu sampai sekarang ini, yaitu ketika dia sedang sibuk mengurus ujian dan saya sibuk dengan tugas sekolah. Dia tahu saya dan (insya Allah) saya mengenal dia. Kami saling percaya, saling mengerti dan (insya Allah) bisa memahami. Ibarat dia kepalanya dan saya tangannya. Kami sahabat.. yang insya Allah sahabat dunia akhirat!!
Basecamp kami yaitu di rumahnya, tepatnya lagi di teras luar paling dekat dengan pertigaan jalan. Setiap pulang dari pengajian al-ma'surat, saya selalu berhenti di rumahnya. Bercerita, *terkadang suka nyangkut-nyangkut menggunjing :D tapi Alhamdulillah semenjak SMA ini sudah berkurang gunjang menggunjingnya* tapi sedihnya, kami sering lupa waktu, sering pulang terlalu larut dan Mbak Ida akhirnya harus mengantar saya sampai setengah jalan atau sekitar 10 langkah ke arah barat. hmmm... dari dulu sampai sekarang masih sama, sama seperti itu, saya memang belum bisa untuk tidak takut * "belum" berarti terbuka kesempatan untuk tidak takut :D*
Tapi, akhir-akhir ini.. saya agak merasa aneh dengan kelakuannya. Dia yang mulai berubah, mulai tidak seperti Farida Purnamasari yang masih SMP. Mungkin lingkungan teman sekolahnya menjadi faktor utama dalam pembentukan pribadinya. *semoga dia membaca laman ini*
Ah, sudah tidak perlu bicara soal kekurangannya, karena adanya saya untuk dia adalah agar dapat menutupi kekurangannya... Saya sudah sangat bersyukur bisa mengenal dia, mungkin saya juga yang berubah sehingga perlu adaptasi lagi dengan sahabat saya yang juga mengalami perubahan *bukankah begitu, kawan?* saya sangat senang bisa bersahabat dengannya, bisa menyayanginya seperti saya menyayangi diri saya sendiri, bisa menangis bersama dia, bisa berdo'a bersama dia, bisa bercanda, belajar bermain gitar *dia yang mengajari saya bermain gitar*
"Shob, aku sayang kamu karena Allah, semoga I5F6 bisa jadi persahabatan dunia akhirat, kita ketemu di Surga, ketemu Allah dan Rasulnya. Makasih ya, Shob!!"




Di rumah Mbak Ida pulang pengajian Al-Ma'surat
Di tenda, Jamais XIX

Tidak ada komentar:

Posting Komentar