Senin, 12 Agustus 2013

Curcol (Keluar dari) Neraka

Lautku belum sepenuhnya asin, masih tawar. Pasca-UAN (19/04) boleh dibilang aku memulai liburku, tapi setelah itu, mulai hari Senin (29/04) bimbel sudah dimulai setiap harinya untuk persiapan SBMPTN. Aku banting jurusan, aku lepas dari ke-IPA-anku (kepretensianku) aku move on ke IPS. Kalian tahu rasanya kayak apa? Nggak bisa gambarin detailnya, tapi yang jelas napasku nggak terengah-engah, singkatnya I’m enjoy with my new days.
Awalnya emang masih ogah-ogahan yang belajar, kecuali Sejarah, aku merasa jatuh hati pada
satu mapel itu (padahal selama sekolah yang namanya Sejarah hampir nggak pernah nggak remidi). Terlebih aku diminta bu lurah buat ikut lomba Kadarkum (7/05), jadi mau nggak mau belajar hukum -_- .


April berjalan menuju Mei. Awal Mei serba nggak fokus, pertama karena belajar buat Kadarkum, kedua karena masih cukup gagap dengan materi IPS yang segedabrek–materi tiga tahun–yang harus dioyak dalam lima pekan. Mei pekan kedua mulai ada peningkatan baik dari semangat belajar maupun nilai TO. Mei pekan ke-3 nggak jauh beda dari sebelumnya tapi nilai TO-ku meningkat.
Mei pekan ke-4 entah ada greget dari mana, tapi hari-hari itu aku menulis catatan-catatan kecil yang menunjang kemampuan berbahasaku. Aku tulis kecil-kecil dan kutempel di meja belajar. Ada sesuatu yang berdesir pas nulis tulisan-tulisan itu, seperti aku tengah berada di dalam mobil yang melaju menuju tempat tujuanku, semakin dekat dan terus mendekat. Baru ketika tiba hari Jumat (24/05) pengumuman UAN, itu mengapa TO di GO ditiadakan.
Malam Jumat itu aku nggak bisa tidur. Pukul 24.00 aku buka internet dan memburu info. Dari beberapa sumber aku mendapat info mengenai kelulusan di Jateng, juara Jateng, and the most important is Smansa lulus 100%. Tapi, aku masih tetep aja deg-degan dan susah tidur. Baru 01.30 aku tutup laptop dan berniat tidur. Paginya pun aku masih memburu info mengenai kelulusan, dan meskipun hampir semua menjawab “isunya smansa 100% lulus” aku tetep nggak tenang. Baru sore pukul 14.30 aku tiba-tiba nangis, nggak tahu kenapa tahu-tahu temen-temen yang udah bantu aku buat belajar kayak nongol di depanku. Aku langsung shalat asar, tapi tetep aja pas salat aku masih mewek. Pulang dari masjid, aku langsung lari ke balkon. Aku raba rumus Fisika di genting rumah bawah yang nempel di balkon, seketika aku mewek lagi. Santi, Kholida, Hanifah, Mbak Nanik, Tia, Moko, Bagas, Vian, Arifah, Idha, Annur, Irwan, Gandhi, Sena, Agil, ibu, bapak, mas Bagus, guru-guru, tentor bimbel, aku mewek sejadinya sampai bikin ibu kebingungan.
“LULUS”. YaAllah terima kasih. Aku nggak nyangka akhirnya terlewati dua tahun nerakaku. Aku masih dalam kegiatan yang sama, nangis. Kalian jangan salah sangka, sedari tadi aku nangis bukan karena sedih, aku cuma bersyukur karena perjuangan selama ini membuatku mengenal mereka dengan baik, teman-temanku yang juga sama-sama berjuang. T.T
Bapak sampai rumah dan aku melihat nilaiku. Sontak meledak tawa, angka-angka apa ini ??? :D Kontras sekali dengan nilai UAN SMP :D tapi itu bukan masalah serius. Ya emang sih aku kehilangan kesempatan untuk mendaftar beasiswa monbukagakusho, but it’s not problem, I’m fine.
(Awalnya monbukagakusho menggunakan syarat nilai rapor, tapi untuk 2013 menggunakan syarat nilai UAN. Aku memang tidak berjodoh saja. Buktinya nilai rapor semester 6 yang aku perjuangkan selama ini agar bisa mendaftar monbusho mencukupi nilainya, tapi ternyata peraturan diubah sebulan sebelum pengumuman UAN, dan ya memang Allah memang tidak memberi izin)

Berganti hari, Senin (27/07) pengumuman SNMPTN. Masih ingat pilihanku buat SNMPTN? Ya, Sastra Jepang UGM dan Ilmu Komunikasi UGM. Masih inget ceritaku pas g*lau milih jurusan itu? Baca aja langsung judul Curcol Neraka #Part-1 di bawah :D . Sore itu aku ke rumah bulik yang lagi punya acara. Ada nenek di situ. Lalu aku minta doa ke nenek, pelan-pelan beliau katakan, “Putuku ki pinter-pinter, lolos, Nduk. Tak dongakke.” Aku senyum. Aku stay tune di depan HP menunggu kabar temen-temen. Pukul 15.55 aku kirim pesan ke kakakku biar dibukain dari rumah. Pas itu aku on the way beliin kakakku jajanan. Enam  menit kemudian sahabatku, Santi sms, ALHAMDULILLAH, sontak aku girang dan segera balas sms-nya lalu menanyakan kabar SNMPTN-ku ke kakakku. Are you guessing some words ?
Aku        : “Gimana, Mas?”
Kakak    : “Ora lolos.” (di tempat jajanan mataku basah seketika)
Aku        : “La sing pilihan 2 ?”
Kakak    : “Tulisane mung Maaf Anda Tidak Lolos og.”
Dan waktu itu juga mataku udah nggak bisa jadi bendungan buat air yang risih pengen keluar, aku tahu kakak sepupuku yang juga di situ tahu kalau aku mewek, tapi dia diam. Aku hapus, keluar, hapus, keluar, begitu seterusnya.
Sampai di tempat bulik, ibu pamit pulang.
Ibu         : “Iki Ima selak niliki pengumuman.”
Ima        : “Nggak lolos kok.”
Ibu         : “Masyaallah, tenanan, Nduk?”
Ima        : “Enggih, mas yang liat.”
Kami bersepakat nggak ngasih tahu nenek.
Sampai rumah aku pura-pura tidur, aslinya mewek ancur.
Sejak merasa apa itu pahitnya ditampar kenyataan. Sejak menyadari betapa selama dua tahun aku berjuang di keterkungkunganku lalu berdebat bebas dengan ibu tentang masa depan. Sejak memahami kemampuanku yang tidak pernah termaksimalkan terkhusus selama dua tahun ini. Malam itu aku memutuskan buat manut. I was getting traumatic.
Aku        : “Aku minta maaf soal kemarin-kemarin, sekarang aku legawa kalau pun aku nggak lagi ambil Sastra Jepang. Jujur, Bu, aku sempet buruk sangka sama Allah. Sebenernya Allah itu belum ngasih atau emang nggak ngasih. Aku dililit ridla orang tua masalahnya. Meskipun ibu mengangguk buat aku ngambil Sastra Jepang kemarin itu, tapi itu kan karena aku paksa buat mengangguk. Aku juga udah bisa open minded, nggak harus kuliah di UGM. Sekarang aku minta saran dari ibu.”
Ibu         : (Melas yang lihat aku, elus-elus kepalaku) “Ibu seneng dengernya. Lihat kamu disingkang-singkang pas persiapan UAN aja ibu udah nggak kuat yang lihat, ee kejadian juga yang tes banting setirnya. Gini aja, Wuk, kamu pikir dulu jurusan yang kamu ngeh, baru ibu liat.”
Aku        : “Udah, Buk. UGM antara Sastra Jepang, Sastra Indonesia, Ilmu Filsafat, UNS antara Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Daerah, sama Hubungan Internasional. Ini aku juga pengen konsulin di bimbel, Mum.”
Ibu         : “Waduh kalau filsafat bapak pasti nggak boleh. Gini aja to, Dek, pilihan satu tetep Sastra Jepang, selebihnya coba tanya di bimbel dulu.”
Aku        : (Kaget setengah mati pas denger ibu bisa kasih izin) “Ibu nyuruh aku Sastra Jepang jadi prioritas? Serius? Tapi, aku malah lemes gini, Mum. Aneh, kalau dibilang hilang sih enggak, tapi kayak ada sesuatu yang luntur. Padahal dari dulu aku sampai debat sama ibu buat pertahanin mimpiku di Sastra Jepang, kan, tapi sekarang malah condong ke Sastra Indonesia. Tapi, Sastra Jepangnya juga masih pengen. Mungkin karena lihat peluang juga, Mum. Sastra Jepang UGM daya tampung 11 modal rapor aja Allah belum oke. Ya bukannya nggak percaya sama Allah, aku cuma kapok dengan segala bentuk kebebalanku, SBMPTN daya tampung 7 orang dengan passing grade naik 2% rasanya kalau tetep ambil itu kok sama aja nyemplung ke neraka lagi, ngoyo. Apalagi kurang tiga pekan lagi buat ngunyah materi tiga tahun IPS.”
Ibu         : (Tersenyum hangat) “Yang sabar ya, ibu doa terus buat kamu. Sekarang saran ibu kamu mau daftar di swasta, ambil UMS Akuntansi.”
*Saat itu sempat debat lagi tentang pilihan jurusan di Swasta*
Selasa ambil toga buat wisuda (28/05) beruntung aku nggak minder pas ketemu temen-temen yang lolos SNMPTN, aku seneng lihat mereka seneng, sesederhana itu. Pulang sekolah langsung bayar SBMPTN di Bank Mandiri sama Dessy, Arifah, Idha.
Rabu wisuda (29/05) aku pakai topeng hari itu. Dua macam topeng. Topeng pertama adalah mukaku, muka pura-pura larut di dalam euforia wis-uda(h), yang kedua topeng make-up. Ampuuun nggak doyan pakai bedak se-nggedibel ini. Sudah cukup.
Nah ini dia, Sabtu (1/06) terlepas dari anak IPA yang pindah ke IPS, gampangannya yang terkenal dengan sebutan PENJAJAH, aku sebenarnya tipe orang yang nggak suka merebut hak orang lain. Sudah aku niatkan buat nggak rakus yang daftar PTN ini itu, PTS ini itu. Tapi, situasi pada hari-hari selepas pengumuman SNMPTN, situasi dimana “aku pernah dilemparkan badai, tapi aku tetap berdiri” mendorong untuk melakukan perbuatan imperialisme itu. Oleh ibu aku diarahkan ke akuntansi. Blas nggak mudeng dan cuma bilang iya pas disuruh (sempet ngeyel ke psikologi juga sih) tapi akhirnya Sabtu itu diantar Uzi ikut tes di UMS jurusan akuntansi, dan lolos. Ya lolos. Di dalam hati sudah bergemuruh, “Nggak bakal tak jabanin, titik.” Dan aku menyesal atas imperialisasi ini. Maaf ya bagi siapapun yang merasa dirugikan.
Senin, 3 Juni 2013 adalah naiknya proposal ke langit. Setelah rembugan dan konsultasi ke keluarga, bu Nana (guru di bimbel), mbak Tika, mbak Evi, sahabat-sahabat, dan terakhir pada diri sendiri, akhirnya aku memilih untuk kemudian dipilihkan Allah.
Enter
Quantum process
Hari-hari bergumul dengan buku-buku IPS dan terasa begitu segar dan menyenangkan. Aku sering pulang larut karena belajar, biasanya bareng Dessy (sekarang di Telkom). Rasanya ini semua membuatku menemukan titik baik dan buruk dari diriku. Terus terang aku lebih jujur pada diri sendiri. Kalian juga harus tahu bahwa di saat-saat seperti itu mengajarkanku melakukan suatu kebaikan bukan karena SBMPTN, tapi ya karena memang kita harus melakukan. Ketika kita memberi, rasanya ya memberi ri, lepas dan tanpa beban. Ketika berpuasa, rasanya ya tanpa lapar dan sebagainya, ringan sekali. Melalui proses ini aku diajarkan Allah untuk menemukan bagaimana kita meluruskan niat.
Bersama Dessy kami sering berbagi ini dan itu. Aku jadi kenal sahabat-sahabat Dessy juga. Indah sekali. Aku tularkan dongeng-dongeng sastra pada Dessy, dan dia sering ketagihan untuk mendengarkan kalau kita lagi makan siang berdua. Proses ini membuat kami memahami panggilan Tuhan, sebut saja azan. Gampangannya, kalau ada suara azan kok kita masih menunda untuk shalat, itu artinya Allah juga akan menunda rezeki kita. Lita, Mbak Tika, kalimat-kalimat wejangan mereka juga mewarnai prosesku. Subhanallah kesempatan seperti itu Allah sedang mengajakku berkomunikasi dengan caranya à masalah.
Tiba pada hari ujian, 18-19 Juni 2013 di SMA N 4 Solo
18 Juni 2013 TPA dan TKDU (Madas, Basindo, Basing)
Aku mau blak-blak’an di sini >>
TPA        : dikerjakan 39 nomor
TKDU     : dikerjakan 10 nomor (khilafnya 3 nomor basindo lupa nggak dimasukkan ke LJK)
Pulangnya LEMES.
19 Juni 2013 Soshum Humaniora (Sejarah, Geografi, Ekonomi, Sosiologi)
Dikerjakan 25 nomor.
Selepas hari itu menuju pengumuman SBMPTN Senin, 8 Juli 2013 adalah hari berproses setelah take action. Aku lepaskan semuanya, dari mulai cemas, khawatir, syak wasangka, sangsi, dan sebangsanya, aku lepaskan semuanya, yang tersisa tinggal pasrah dan meminta diberi petunjuk yang terbaik.
Dan Senin, 8 Juli pukul 17.00 di ruang tengah aku tutup mataku selepas menekan tombol enter.
“Selamat … ? “ ibu yang memegang pundakku berteriak namun dengan intonasi bertanya.
Aku buka mata, dan,


ALLAH, aku tidak ingin menuntut ini atau pun itu. Ibarat berjalan di dalam labirin yang melewati jalan demi jalan, sudah jelas inilah paket takdir yang Allah pilihkan setelah aku berusaha memilih. Terima kasih Allah, ibu, bapak, mas Bagus, mbah putri, budhe Shaleh dan keluarga, pakdhe-pakdhe, budhe-budhe, mas mbak dan adik sepupu, Hanifah, Santi, Kholida, Dessy, Mbak Ida, Mbak Tika, Dicky, Tia, Arifah, Adha, Idha, Fauzi, Astryd, Rissa, Karina, Winda, Ika, Helvi, Hanif, Nikmah, Lita, mbak Nita, Dinar, Gandhi, Dahlia, Lulum, mas Avicena, mas Nur, mbak Nanik, mbak Zana, dan sebuah nama yang tidak bisa disebut di sini.

AKU BEBAS BAS DARI NERAKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA !!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar